Panduan Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Salah satu prinsip dalam penilaian adalah adanya standar yang dipakai untuk menentukan tuntas atau tidak tuntasnya seorang peserta didik dalam belajar. Standarisasi penilaian ini akan membantu seorang guru dalam menentukan langkah selanjutnya dalam proses belajar mengajarnya. Apakah anak layak untuk diberikan materi lanjutan atau bahkan pengayaan, atau anak masih harus diberikan remidial untuk membantu dalam memahami materi yang dinilai masih kurang (tidak tuntas). Maka dari itu dimunculkanlah istilah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan prosentase tingkat ketuntasan kompetensi seorang peserta didik yang paling minimal dengan angka maksimalnya adalah 100. Oleh karena itu, guru ataupun satuan pendidikan harus bisa merumuskan berapa angka ketuntasan minimal seorang peserta didik untuk dinyatakan tuntas dalam suatu mata pelajaran.

Angka ketuntasan minimal tentu tidak serta merta langsung muncul. Namun ada beberapa kriteria yang menjadi patokan dengan melihat evaluasi diri terkait kompleksitas materi (KI/KD), daya dukung pembelajaran (sarana prasarana) dan intake (kemampuan rata-rata siswa). Ketiga hal tersebut yang nantinya akan dirumuskan untuk menjadi suatu angka KKM suatu mata pelajaran atau bahkan komulatif menjadi angka KKM satuan pendidikan.

Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Ada beberapa fungsi kriteria Ketuntasan Minimal yang dapat kita pahami:

a. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Pendidik diharapkan dapat berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan pembelajaran yang baik untuk peserta didik. Sehingga hasilnya nanti sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.

b. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran. Peserta didik diharapkan dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti proses pembelajaran sehingga menghasilkan nilai tuntas pada setiap mata pelajaran.

c. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Keberhasilan pembelajaran secara klasikal (satuan pendidikan) tentu membutuhkan standarisasi yang jelas. Dimana KKM bisa menjadi tolok ukur yang jelas terkait berhasil atau tidaknya pembelajaran di dalam lingkup satuan pendidikan.

d. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. KKM harus disosialisakan kepada semua elemen penyokong satuan pendidikan, termasuk didalamnya orang tua dan masyarakat sekitar. Hal ini dimaksudkan agar orang tua juga bekerja keras untuk mendampingi anaknya supaya belajar dengan baik. Sehingga target KKM yang sudah dicanangkan sekolah juga menjadi acuan orang tua dan masyarakat untuk mendukung pembelajaran yang diakukan anaknya di sekolah.

e. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Angka KKM tentu menjadi penyemangat bagi setiap guru agar mata pelajaran yang diampunya dapat dituntaskan oleh peserta didiknya. Hal inilah yang menjadi alasan, bahwa KKM juga bagian dari target satuan pendidikan.

Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal

Seperti yang sudah disebutkan di atas, ada tiga kriteria yang menjadi dasar dalam menentukan angka KKM, yaitu kompleksitas materi (KI/KD), daya dukung pembelajaran (sarana prasarana) dan intake (kemampuan rata-rata siswa).

Berikut ini akan diulas secara singkat mengenai ketiganya.

1.Kompleksitas

Kompleksitas merupakan tingkat kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

Ada beberap kriteria dikatan indikator mempunyai kompleksitas tinggi, apabila terpenuhinya beberapa hal berikut.

  • Guru mampu menguasai dan mengajarkan materi dengan kreatif dan inovatif.
  • Membutuhkan waktu yang lama untuk mengajarkan materi/indikator pembelajarannya.
  • Membutuhkan tingkat penalaran dan pemahaman yang tinggi untuk dipahamai oleh peserta didik.

2. Daya Dukung

Daya dukung merupakan bagian dari penyokong terlaksana atau tidaknya pembelajaran yang akan dirancang. Contohnya, ketika indikator pembelajaran yang dipakai melibatkan praktikum, maka perlu dipikirkan juga bagaiamana alat-alat praktikum mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini menentukan nilai KKM, jika memang tersedia secara lengkap maka bisa diberikan nilai daya dukungnya tinggi, jika tidak maka nilai daya dukungnya tetap rendah.

Di dalam daya dukung terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu ketersediaan alat atau sarana prasarana belajar dan juga tenaga pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi mata pelajarannya sehingga mampu menguasai dan membelajarkan mapelnya dengan baik.

3. Intake (tingkat kemampuan rata-rata) peserta didik

Kemampuan rata-rata siswa kelas X bisa didapatkan dari nilai hasil seleksi masuk sekolah. Bisa berdasarkan Ujian Nasional, rapor di jenjang dibawahnya ataupun nilai hasil seleksi mandiri (kognitif atau psikotes) oleh sekolah bersangkuta. Sedangkan di kelas lanjutan bisa berdasarkan nilai kompetensi pada kelas sebelumnya.

Contoh penentuan KKM per KD

contoh penentuan dan penetapan KKM

Sumber: gurumadrasah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *