4 Langkah Membangun Kepercayaan dengan Siswa Generasi 4.0

Semakin ke depan semakin maju peradaban. Semakin canggih kualitas teknologi, semakin “liar” pola berpikir seseorang. Hal ini sudah semakin terasa, bahwa anak-anak kita sekarang, bukan lagi anak-anak yang mempunyai karakter 10 atau 20 tahun belakang. Anak jaman “now” lebih berani berekspresi, lebih kritis dan tidak mau dikekang dengan aturan yang kita pegang selama ini.

Mereka mempunyai pandangan dan pola pikir yang berbeda. Hal ini memaksa kita mau tidak mau untuk mengikuti arah dan alur berpikir mereka. Sebagai upaya untuk memberikan kontrol dan arahan agar tidak terjebak pada pola pikir dan pergaulan yang salah kaprah.

Sebagai guru kita memang harus mengikuti jaman. Kebiasaan siswa generasi 4.0 mempunyai keunggulan dalam cepatnya mereka menerima informasi yang kadang kita kalah cepat. Gawai yang mereka pakai sekarang menjadikan sesuatu mudah untuk didapatnya. Namun, kenyataannya masih banyak yang belum bisa memanfaatkannya dengan bijak.

Guru Berkualitas

Sebagai guru, tentu peran kita sangat strategis dalam hal ini. Teknologi yang canggih, dengan fasilitas satuan pendidikan yang mumpuni tentu akan menjadi momok belaka jika seorang guru tidak bisa memanfaatkan dengan baik untuk proses pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan guru-guru berkualitas dimana mau terbuka dengan akses teknologi yang semakin canggih untuk dimanfaatkan dalam rangka kemajuan pendidikan, khususnya perkembangan keilmuan dan karakter siswa.

Scherer (2003), mengatakan bahwa guru berkualitas mampu:

(1) memberikan waktu terkait dengan tugasnya,

(2) mengasihi siswa yang diajari,

(3) menguasai manajemen kelas,

(4) membangun kedekatan secara positif dengan orang lain,

(5) mengupayakan pelayanan terbaik (excellent) secara konsisten,

(6) menunjukkan keahlian dalam metode pembelajaran,

(7) menguasai bidang studinya secara mendalam,

(8) untuk bertumbuh dan berkembang sesuai tuntutan perubahan,

(9) memiliki tujuan yang mantap dan kepribadian pendidik. 

Dalam sembilan poin diatas, dapat dicermati dengan saksama ada beberapa poin yang mempunyai goal yang sama yaitu menciptakan suasana kedekatan dan mengutamakan pelayanan terhadap objek belajar kita yaitu siswa. Hal ini bertujuan untuk lebih mengerti apa yang menjadi keinginan, minat dan bakat siswa di dalam belajar. Sehingga membantu kita menyusun rancangan belajar yang lebih menekankan aktivitas mereka.

Boleh dikatakan, inilah merdeka belajar. Guru mempunyai kebebasan menyusun rancangan kegiatan pembelajaran yang memusatkan pada ketertarikan anak terhadap pelajaran. Guru harus mencoba untuk merubah paradigma bahwa belajar, ketika guru ceramah, siswa mendengar. Maka harus diubah, siswa dituntut untuk berdiskusi dan merancang suatu proyek kegiatan yang menunjang proses pembelajaran pada mapel atau sub materi tertentu dengan tujuan belajar yang sudah ditentukan.

Membangun Kepercayaan Siswa

Membangun kepercayaan siswa terhadap guru tentu bukanlah hal yang mudah. Semua butuh proses dan perencanaan yang matang. Bahkan memerlukan sebuah skema tertentu yang membuat mereka kagum dan segan dengan kita. Oleh karena itu, bahasan guru berkualitas di atas sengaja saya suguhkan. Agar kita harus benar-benar bisa merubah diri menjadi seseorang yang dapat dipercaya oleh siswa karena keilmuan maupun karena kedekatan secara emosioal antara guru dengan siswanya.

membangun kedekatan dengan murid
Sumber gambar: greatedu.co.id

1. Mengajar dengan Komunikatif dan Ekspresif

Dalam pengalaman saya, saat mengajar kita mampu menampilkan sosok yang komunikatif dan terbuka dengan siswa, dapat menumbuhkan semangat siswa dalam belajar. Bahkan saya pun tak segan untuk bereaksi ekperesif jika ada siswa yang berani maju atau menjawab pertanyaan saya. Dan, ini saya rasakan, mereka cenderung lebih “berani” untuk membuka diskusi atau pertanyaan yang lebih luas dari materi tersebut.

Apa yang menjadi sebab? Setelah saya amati, dan coba saya evalusi dengan memberikan pertanyaam kepada mereka pada akhir sesi pembelajaran, mereka merasa senang dengan pembelajaran saya. Padahal mata pelajaran saya termasuk dibenci oleh sebagian siswa. Diluar pembelajaran, mereka juga bisa sangat akrab dengan saya. Tentu, dalam batas-batas yang wajar saja sebagaimana seorang guru dan murid.

Bersifat terbuka, mendengarkan mereka berbicara, menunjukkan mimik ekpresif yang membuat mereka tersenyum, mampu meningkatkan kedekatan seorang siswa dengan guru. Tujuan akhirnya tentu mereka tidak merasa terbebani dengan pelajaran dan selalu bersemangat ketika kita tampil di depan mereka pada jam-jam tatap muka yang lain.

2. Konsistensi dan Kredibilitas terus Terjaga

Hal yang membuat siswa semangat adalah saat kita mampu menampilkan sosok seorang guru yang mumpuni pada bidang pelajaran kita. Anak adalah penilai yang ulung, begitu kata peribahasa. Sama juga dengan siswa kita, mereka pandai dalam menilai seorang guru layak mengajar atau tidak. Terlebih lagi, siswa generasi 4.0 adalah siswa-siswa yang kritis. Bahkan mereka kadang tak malu menceritakan guru yang tidak mereka sukai dalam hal mengajar. Ini nyata!

Maka dibutuhkan sebuah kredibilitas keilmuan atau karakter yang perlu kita tunjukkan kepada mereka. Bukan untuk sok-sok an tetapi memang itulah yang harus ditampilkan dalam rangka memberikan mereka sebuah pembelajaran.

3. Mengajar sebagai Passion

Ribuan bahkan jutaan guru di Indonesia ini, bisa jadi guru bukanlah profesi yang mereka inginkan sebenarnya. Ada juga karena keadaan sehingga menjatuhkan pilihannya sebagai guru. Ada juga karena keterpaksaan memilih jurusan kependidikan karena nasihat orang tua yang sebenarnya berlainan dengan nurani. Ada juga profesi guru sebagai batu loncatan saja untuk meraih pekerjaan yang diinginkan karena menunggu waktu.

Apapun itu, jika sudah memilih menjadi guru dengan latar belakang apapun, saya hanya meminta untuk memperbaharui niatnya saja. Selama berprofesi guru, maka curahkan pikiran dan tenaganya untuk kemajuan pendidikan anak didik kita. Sehingga kita dapat mengajar anak didik kita dengan sepenuh hati. Kalaupun perlu jadikan profesi guru sebagai passion kita.

Seorang siswa dapat mempercayaai mereka seorang guru, jika guru tersebut mampu percaya terhadap siswa. Dan ini dibutuhkan kondisi kejiwaan yang positif, bahwa profesi guru membutuhkan sentuhan hati dalam mengajar. Sehingga mampu menjadi sutradara dalam proses kegiatan belajar mengajarnya. Kita dapat mengarahkan siswa kita sesuai dengan bakat minatnya, yang tentu dibutuhkan kedekatan yang baik dengan siswa.

4. Menguasai TIK

Mungkin poin ini tidak terlalu berdampak secara emosional kedekatan siswa dengan guru. Tapi penguasaan TIK mampu memberikan efek yang cukup baik terhadap kepercayaan seorang siswa terhadap gurunya. Kemampun guru mengoperasikan TIK di depan kelas, mampu menarik perhatian siswa. Bagi siswa yang merasa selalu tertantang ini menjadi sebuah dorongan untuk mengenal lebih jauh teknologi tersebut bahkan kapasaitas Anda dalam operasional TIK.

Guru Berdaya Guru Dipercaya

Semakin kuat kemauan dan kemampuan kita untuk terus bertumbuh, maka semakin kuat pula posisi kita dalam menorehkan prestasi membangun bangsa. Guru berdaya merupakan guru yang tak berhenti belajar untuk merancang, menciptakan dan menumbuhkan sebuah potensi untuk dijadikan “karya” terbaik. Siswa adalah objek belajar kita, siswa adalah “karya” kita. Maka semakin kita kuat untuk memperbaiki diri, semakin baik pula “karya” yang akan kita ciptakan untuk kemajuan bangsa.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *