“Baaaaaaaa ……”, teriak Alby, kawan anak saya. Yang tiba-tiba masuk ke rumah untuk mengagetkan anak saya, Fatih.

Seketika itu, berlarilah Fatih, anak saya menuju kamar setelah selesai mandi. Sembunyi di balik pintu kamar. Seraya berteriak dengan logat Kalimantan kepada kawannya.

“Bentar bah, aku ganti baju dulu. Kau tunggu aku di luar ye. Jangan ngintip aku.”, ujarnya.

Dialog di atas terjadi beberapa waktu lalu. Kejadian sepeti itu memang kerap terjadi, karena mereka memang masih anak-anak. Bisa jadi, kejadian seperti itu bergantian mereka lakukan ketika di rumah kawannya. Ya, niatnya pasti bercanda.

Bukan tidak ada maksud yang dilakukan oleh anak saya untuk segera sembunyi ke dalam kamar. Tapi saya tersenyum bahagia dengan kejadian itu. Itu artinya, apa yang saya tanamkan sejak kecil membekas dalam memorinya. Karena memang sedari kecil sudah saya sampaikan bahwa bagian-bagian tubuhnya, terutama bagian vital tidak boleh dilihat, apalagi disentuh oleh orang lain.

Mengapa saya tanamkan perihal pencegahan kekerasan seksual sejak dini kepada anak? Dalam sudut pandang saya, anak laki-laki saya tetap harus mempunyai privasi terhadap tubuhnya. Walaupun tidak se-privasi bagian tubuh perempuan, namun kekerasan gender tetap bisa saja mengarah pada anak laki-laki.

Anak laki-laki saya harus memahami, tentu secara bertahap bahwa aksi yang mengarah pada pelecehan seksual tidak diperbolehkan, walaupun hanya melihat. Maka kami menekankan  rasa malu ketika bagian vitalnya dilihat orang lain. Sehingga dia harus bergegas lari untuk sembunyi, dan berteriak meminta tolong.

Apakah itu berlebihan? Saya tidak merasa begitu. Justru karena kedudukan anak saya yang laki-laki dia harus memahami itu. Saya selalu menekankan, seorang laki-laki harus menjadi pelindung bagi keluarga. Dimulai dari bagaimana melindungi diri sendiri dari apa yang dipunya agar tidak dilihat, dipegang, atau diambil oleh orang lain.

Jika konsep itu sudah dipahami, saya sangat yakin pelibatan laki-laki dalam mencegah kekerasan berbasis gender (KBG) dapat dioptimalkan beberapa tahun kemudian saat dia beranjak remaja sampai dewasa. Jangan berpikir itu bukan solusi. Ya, memang bukan solusi cepat pada masa kini. Tapi saya meyakini, jika itu diterapkan semua keluarga, maka kejadian kekerasan berdasarkan gender beberapa tahun ke depan dapat diminimalisir. Itu harapan saya.

Karena budaya patriarki masyarakat kita yang menganggap laki-laki lebih berperan dan berkuasa. Kedudukan laki-laki mendapat penghakiman sebagai pelaku utama dalam kekerasan berbasis gender. Saya pun tidak menafikan bahwa memang secara umum pelaku kekerasan tersebut adalah laki-laki.

Namun, untuk mereduksi pemikiran itu, saya memberikan pemahaman akan arti perlindungan diri agar membantunya dalam mengembangkan potensinya. Usaha ini adalah usaha yang paling kecil yang bisa saya lakukan untuk mencegah kekerasan gender dengan menerapkannya di dalam lingkup terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

Karena bagi saya, keluarga adalah pilar pertama yang menyokong perubahan karakter bangsa untuk selalu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Jika itu bisa terwujud di setiap keluarga, saya yakin bangsa ini tetap menjadi bangsa yang hebat dan bermartabat. Saya meyakini hal itu.


yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *