Rendahnya Tingkat Pemahaman dalam Membaca

jambi.tribunnews.com

Sepanjang beberapa tahun belakang, saya menemukan fakta bahwa kebanyakan siswa sekarang kesulitan dalam memahami suatu bacaan atau suatu permasalah yang dilontarkan kepada mereka. Ketidakmampuan memahami suatu bacaan menjadi penghambat yang cukup nyata didalam kelangsungan proses belajar mengajar. Hal ini menimbulkan ketidakmandirian siswa dalam mencari referensi untuk menambah daya paham mereka dalam mempelajari suatu materi.

Ketika mereka merasa berat untuk memahami bacaan atau permasalahan, mereka cenderung pasif untuk mekanjutkan penugasan yang diberikan guru. Sehingga pada akhirnya, guru seolah-olah selalu menyuapi siswa sehingga cenderung pembelajaran bersifat teacher centered. Dan, siswa menunggu guru menjelaskan guru secara ceramah.

Hal ini ternyata senada dengan ucapan pemerhati pendidikan, Indra Charismiadji bahwa “hasil dari penilaian yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yakni “Indonesian National Assesment Programme”, hanya 6,06 persen siswa di Tanah Air yang memiliki kemampuan membaca yang baik. Sisanya yakni 47,11 persen cukup dan 46,83 persen lagi memiliki kemampuan membaca yang kurang,”.

Literasi yang digalakkan oleh pemerintah masih belum maksimal. Keyakinan saya, masih banyak pula sekolah yang belum benar-benar menerapkan konsep literasi dalam keseharian siswa. Kebijakan sekolah memang harus benar-benar dievaluasi terkait dengan budaya literasi. Sembari berjalan secara perlahan memperbaiki kekurangan yang masih terjadi dalam praktik di lapangan.

Dalam konteks paling kecil, guru memang harus membiasakan siswa untuk tetap membaca suatu materi sebelum ada penjelasan dari guru. Kemudian siswa dapat diminta untuk menjelaskan inti dari bacaan di hadapan teman-temannya. Kegiatan ini dapat berlangsung setiap ada jam tatap muka dengan bergilir bergantian setiap minggunya. Hal ini membuat siswa mau tidak mau tetap harus meningkatkan kemampuan membacacanya.

Dalam konteks sekolah, menghidupkan literasi tentu harus dibarengi dengan kebijakan dan kebersamaan dalam membangun budaya literasi. Kegiatan yang bersifat literasi, baik lomba maupun pameran literasi (baca puisi, pantun, penulisan esay, cerpen dan sebagainya) dapat dilakukan pada momen-momen tertentu. Konsep ini mampu menjadikan literasi sebagai budaya sekolah yang ikonik. Sehingga membawa nilai positif dalam berliterasi di dalam lingkup sekolah.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *