Memulai Menulis, Bagaimana Caranya?

Menulis buku adalah dambaan setiap orang yang sudah menemukan minat dan ketertarikan dalam dunia tulis menulis. Entah itu buku solo atau antologi, semuanya itu menjadi harapan besar untuk bisa segera menerbitkan karya pertama. Namun, semua itu juga diperlukan proses untuk menulis dengan baik.

Karena sejatinya, orang pandai menulis bisa jadi karena memang sudah bakat, tapi ada juga karena memang tekun berlatih. Bagi yang bukan bakat tapi ada ketertarikan, maka langkah yang ditempuh adalah berlatih dengan tekad yang kuat. Belajar pada orang-orang yang mempunyai kapasitas dalam hal tulis menulis Bagaimana caranya?

Pada pertemuan kali ini, narasumber yang menginspirasi adalah Ditta Widya Utami, S.Pd. Beliau adalah seorang guru IPA yang aktif menulis dan mengembangkan literasi di sekolahnya. Beliau berbagi pengalaman bagaimana menuliskan dan menerbitkan buku. Terutama bagaimana memulai menulis bagi yang belum terbiasa menulis atau mungkin sudah mulai tetapi terkadang  mentok di tengah perjalanan.

Tips Memulai Menulis

1. Ikut Kelas Menulis

Banyak hal yang didapat di dalam kelas menulis. Ilmu menulis sudah pasti, motivasi, tips dan trik menulis juga menjadi keuntungan sendiri. Hal ini juga saya rasakan, ketika mengikuti kelas menulis bersama Om Jay. Beberapa hal tersebut dapat saya rasakan manfaatnya. Terutama di bagian motivasi menulis. Karena proses ini tidak bisa dicari dengan mudah.

Termotivasi karena banyak guru-guru hebat di sini. Walaupun beberapa peserta katanya umur sudah “senior” namun saya melihat begitu antusias sekali mengikuti kelas menulis online ini. Itulah yang menjadi pelecut semangat dan motivasi saya. Malu jadinya, kalau saya yang umurnya masih “muda” tapi tak bersemangat untuk menulis.

2. Ikut Komunitas Menulis

Komunitas menulis menjadi saran dari Bu Ditta untuk memulai menulis. Dari komunitas menulis inilah kita bisa berbagi tulisan. Kita bisa membaca tulisan-tulisan orang lain dengan berbagai ciri dan karakternya masing-masing. Hal itu akan menambah pengetahuan dan perbaikan sudut pandang menulis. Yang artinya, akan semakin kaya pengetahuan kita di dalam perjalanan kepenulisan kita.

Di media sosial, baik Facebook, Twitter, Telegram maupun Whatsapp banyak sekali tersebar komunitas menulis yang bisa diikuti. Baik yang berbayar maupun gratis. Tapi kalau ada yang gratis, kenapa harus membayar? He he he.

3. Ikut Lomba Menulis

Lomba menulis memang mempunyai makna lain bagi kita yang baru memulai menulis. Mungkin lebih tepatnya cara pengalaman saja. Karena agak susah kalau harus menjadi juara satu. Ya, saya ngomong apa adanya. Karena untuk lomba-lomba menulis tentu akan diikuti oleh orang lain yang sudah menekuni dunia tulis menulis lebih lama dari kita.

Bukan bermaksud melemahkan semangat, namun kita tetap sadar diri. Kita sebagai pemula, ikut lomba untuk mencari pengetahuan dan tantangan baru. Di dalam lomba menulis, kita bisa berlatih fokus untuk menulis dengan tema tertentu dan dikerjakan dengan target waktu tertentu. Ini menjadi bagian dari pengalaman yang tidak akan terlupakan. Menulis dengan dikejar waktu dan harus mencari ide serta referensi yang faktual dan valid.

Baca Juga:

Menerbitkan Buku dari Hasil Resume

4. Menulis Apa yang Ada di Sekitar atau Keseharian Kita

Banyak inspirasi menulis di sekitar kita. Bahkan kopi hitam dalam cawan pun bisa menjadi ide dalam tulisan. Baik tulisan ringan maupun berat. Terkadang tulisan yang bagus bisa berasal dari hal-hal yang sederhana. Jika ditulis dengan alunan kata-kata yang runtut tentu mudah dicerna orang. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menggerakkan imajinasi pembaca sesuai dengan gambaran penulis. Jadi, secara sederhana apa pun di sekitar kita bisa menjadi ide tulisan.

5. Menulis Apa yang Disuka

Jika sudah suka, maka dari situ akan bermula. Jika sudah suka, tentu mudah untuk bercerita. Menulis yang baik, adalah  menulis seolah-olah kita berbicara. Jadi kalau ada sesuatu yang kita suka, kemudian ingin menceritakannya. Cerita saja. Pakai bahasa tulisan yang sebenarnya bahasa ucapan. Sehingga akan mengalir dengan begitu saja. Bagaimana dengan typo? Tinggalkan saja dulu, sampai tulisan/ceritanya selesai. Baru kemudian diedit.

Baca juga:

Memulai Menulis Melalui Apa?

Orang dulu menulis melalui buku diary. Buku tulis tebal yang isinya coretan uneg-uneg. Namun, jaman sekarang berbeda media tulisnya. Memang bukan berarti buku diary ditinggalkan. Namun asas manfaat tidak akan ada jika di buku diary. Kecuali memang menulis untuk konsumsi pribadi.

Sekarang orang dapat beralih dan berlatih menulis secara maya. Baik lewat media sosial, blog personal, blog keroyokan atau paltform khusus menulis. Dan, itu memacu untuk diri kita menulis dengan baik. Kita akan memaksa diri kita untuk belajar menulis dengan baik dan benar.

Media-media seperti itu dapat memberikan manfaat seperti itu. Menulis dengan baik dan benar, dengan bisa melihat dan membaca karya orang lain. Kemudian kita bisa meniru gaya menulis atau bahkan menciptakan sendiri berdasarkan bacaan/tulisan orang lain. Ini sangat membantu untuk memotivasi diri. Boleh dicoba. Intinya tidak boleh malu. Yang terpenting tulisan bukan berasal dari copy paste punya orang lain. Itu saja sudah cukup.

Baca juga:

Hubungan-antara-Penulis-dan-Penerbit

Menulis Buku Solo atau Kolaborasi

Tulisan yang ada di blog, file laptop bisa dikumpulkan dalam folder tertentu agar tidak berserak. Boleh dikumpulkan dengan tema dan tipe tulisan yang kurang lebih sama. Suatu saat bisa dijadikan sebuah buku. Buku solo tentunya.

Menulis buku solo tentu kita sendiri yang menentukan temanya. Kapan tenggat waktunya, berapa halaman per harinya, itu semua diri sendiri yang menentukannya. Jika semangat motivasi membuncah tentu penulisan buku solo tidak akan terlalu lama. Tapi kalau banyak hal terjadi selama periode menulis, ya pandai-pandai saja mengaturnya. Terpenting adalah kita punya target kapan harus selesai, dan kapan harus diterbitkan.

Menulis buku kolaborasi agak berbeda. Karena menulis secara bersama-sama, tentu temanya sudah ditentukan. Dan, kita perlu menyesuaikan tulisan kita dengan temanya. Supaya bisa diterima oleh tim yang lain. Selain itu, waktu biasanya juga agak ketat. Artinya, tenggat waktu sudah ditentukan dari awal. Sehingga setiap penulis harus sudah mempersiapkan tulisannya sebelum deadline. Karena jika satu terlambat maka, penerbitan buku juga akan terlambat.

Namun, enaknya menulis berkolaborasi semua sudah ditangani oleh orang. Kita hanya perlu setor tulisan saja, juga setor biaya penerbitan. Biaya penerbitan tentu akan lebih ringan jika bersama-sama.

Kesimpulan

Menulis membutuhkan sarana. Baik sarana dalam arti media tulis, juga sarana untuk memotivasi diri dan mencari tips, trik dalam menulis. Semua ada caranya asal mau belajar dengan sungguh-sungguh. Selebihnya, niakan menulis untuk memberikan manfaat. Walaupun tulisan terkesan curahan hati, tapi bisa lebih bagus jika bisa memberikan arti.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

2 Responses

  1. Sukses buat mas Taufik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *