Langkah Menerbitkan Buku dari Hasil Resume

Rasanya, tidak ada dari kita yang tidak mau mempunyai karya berupa sebuah buku. Buku membawa nama kita jauh melampaui usia kita. Hari ini, menerbitkan sebuah buku sudah tidak menjadi hal yang ribet lagi. Selama punya naskah, walaupun sesederhana apa pun itu, bisa diterbitkan. Tidak perlu kita harus menunggu review yang lama dari suatu penerbit. Belum lagi terkendala, sistem review pada penerbit yang harus menyesuaikan kebutuhan dan kesesuaian karakter penerbit tersebut. Kita bisa menerbitkan buku sendiri dengan diurus sendiri, melalui self publishing, atau lebih dikenal dengan penerbit indie.

Tapi pasti ada kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya seperti yang tertera di paragraf awal. Sedangkan kelemahannya, ya kita harus mengupayakan sendiri beberapa hal terkait prosesnya. Mulai menyiapkan pendanaan untuk desain cover, cetak buku, dan pengurusan ISBN. Selain itu, marketing harus dijalankan sendiri dengan sistem dibuat sendiri. Berbeda dengan penerbit mayor, mereka sudah menyiapkan semuanya, kita tinggal terima jadi. Tinggal tanda tangan kontrak, kemudian menerima pelaporan hasil penjualan, yang relasinya berkaitan dengan royalti yang diterima. Selebihnya, hanya koordinasi saja terkait perbaikan naskah jika memang dibutuhkan.

Bersyukur sekali malam ini, Pak Brian Prasetyawan menjadi narasumber kali ini. Menjadi inspirasi bagi penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya melalui penerbit indie. Total sudah ada empat buku yang telah berhasil diterbitkan. Itu tidak termasuk berbagai artikel yang telah dimuat berbagai media, baik media cetak maupun online. Malam ini pembahasan perkuliahan mengenai bagaimana menerbitkan buku dari hasil resume. Sebelum itu, jika ingin mengetahui lebih detail tentang narasumber kali ini, silahkan berkunjung di blog beliau: Praszetyawan.

Buku Karya Brian Prasetyawan

Menurut pemaparan beliau menulis apa pun itu tetap akan berguna. Menulislah apa pun yang bisa ditulis. Jangan pernah ragu dengan tulisan yang kita buat. Tulisan yang menurut kita biasa, bisa jadi menjadi luar biasa bagi orang lain. Kita tidak pernah tahu, tulisan yang kita buat akan menemukan “klik” nya suatu saat jika dibaca oleh orang yang tepat. Orang yang memang membutuhkan sesuatu seperti apa yang tersurat dan tersirat di dalam pesan tulisan kita.

Menumbuhkan Motivasi

Menulis buku membutuhkan ketahanan emosi yang cukup panjang. Proses yang dijalani tentu tidak semudah membuat artikel sepanjang dua sampai tiga halaman. Buku adalah kumpulan halaman-halaman yang tersusun rapi dengan strukturisasi yang jelas. Bahkan harus memudahkan pembaca, sehingga alurnya mudah diikuti. Itulah mengapa, menulis buku hingga menerbitkan suatu buku membutuhkan proses panjang.

Motivasi adalah booster-nya. Ya, tanpa motivasi kita akan terhenti. Menyerah karena tak tahu arah dan berasa lelah. Jika ini dibiarkan tentu menjadi penyebab kegagalan. Saya masih ingat betul, di tahun 2007 pernah terbersit membuat buku dengan judul “The Power of Kepepet”. Ini adalah hasil refleksi diri saya yang menyukai segala sesuatu ketika tenggat waktu mendekat. Keinginan membuat buku itu bahkan pernah saya ucapkan ke salah satu teman kuliah, yang sekarang menjadi istri saya. Namun, karena tidak ada motivasi lebih. Selain itu masih bingung mau dibawa ke arah mana ide itu, akhirnya semuanya terbengkalai. Di tahun 2008, muncullah buku dengan judul yang sama yang dituliskan oleh Jaya Setiabudi (2008). Dan, buku itu terbilang sukses di pasar.

Menyesal? Iya, karena saya tidak melanjutkan mimpi saya. Motivasi saya terbelenggu sehingga rasa malas mendera. Tidak punya motivasi lebih untuk segera menulis dan menerbitkan buku tersebut. Sehingga ini menjadi pelajaran bagi saya, bahwa menulis membutuhkan motivasi yang tak boleh terputus. Panjang, sepanjang proses menulis itu berubah menjadi sebuah buku pertama. Begitu pula, motivasi juga tak boleh terputus, hingga menerbitkan buku lagi, lagi dan lagi.

Baca Juga:

Mencari Mentor dan Komunitas

Pak Brian Prasetyawan mengatakan menjaga motivasi menulis bisa dengan tergabung komunitas menulis. Beliau merasakan hal itu. Tergabung dalam komunitas orang-orang yang menyukai aktivitas menulis membuatnya senang berkali-kali lipat. Hasilnya bisa menerbitkan buku solo pada Mei dan Juni 2020. Dan, saya pun berpikir inilah yang mestinya menjadi langkah awal bagi seorang pemula. Jangan ragu dan malu untuk berada di dalam grup menulis. Karena di dalamnya banyak ilmu yang bisa didapat. Baik itu, dari narasumber atau dari kawan-kawan peserta lain.

Selain itu, keberadaan mentor juga sangat penting sekali. Selain menjadi role model awal kepenulisan kita, juga menjadi orang yang bisa memberikan koreksi, masukan dan kritikan terhadap tulisan. Tentunya, tujuan akhirnya adalah kita mampu menulis dengan baik. Dan, menghasilkan sebuah karya buku yang layak untuk dikonsumsi oleh orang lain.

20 Resume Menjadi Satu Buku

Tujuan akhir dari pelatihan menulis ini adalah membuat sebuah buku dari hasil resume yang telah dibuat dengan minimal 20 resume. Banyak yang bertanya bagaimana teknik penulisan buku jika dihasilkan dari resume yang berbeda-beda materinya. Berbeda dalam arti, tidak ada keruntutan yang jelas dari materi yang telah disampaikan. Terlihat acak, dan tidak runtut. Pertanyaan ini juga yang menggelayuti pikiran saya selama ini. Namun, saya tetap masih memastikan diri untuk tetap bertahan sampai akhir, karena saya menyadari banyak ilmu yang saya dapat.

Ternyata, sederhana saja jawaban dari Pak Brian. Cukup satukan di dalam satu file Word, kemudian rapikan naskah yang sudah dijadikan satu file. Resume yang dibuat selama inilah yang akan menjadi buku itu sendiri. Tidak usah terpaku dengan ketentuan penulisan ilmiah. Bahkan kata beliau, jika memang ada 20 resume, ya jadikan saja 20 bab. Tinggal lengkapi naskah dengan beberapa kelengkapan lain untuk bisa diterbitkan. Semisal, cover, kata pengantar, daftar isi, profil penulis, sinopsis dengan panjang tiga paragraf. Setiap paragraf terdiri dari tiga kalimat.

1. Edit Dulu

Jika naskah resume sudah selesai, dan punya keinginan untuk diterbitkan, maka ada hal-hal lain yang mesti dilakukan. Kita harus melakukan pengeditan pada tulisan kita. Tidak perlu membayangkan pengeditan tingkat tinggi. Cukup melakukan pengeditan pada kesalahan mengetik dan merapikan susunan paragraf. Paragraf yang baik tidak perlu terlalu panjang. Karena cenderung membingungkan. Namun, membuat tulisan dengan kalimat pendek malah lebih baik. Sehingga  mudah untuk dimengerti oleh orang lain.

2. Sama Persis  Resume Blog vs Tambah Sumber

Tentu kita ingin buku yang akan terbit nanti, bisa dinikmati oleh orang lain dengan baik. Dengan memberikan kesan yang mendalam terhadap isi yang disampaikan dalam buku. Bukan membuat buku yang alakadarnya. Oleh karena itu, penting kiranya naskah resume yang dibuat harus matang. Oleh karenanya membutuhkan polesan sedikit demi sedikit, bahkan kalau perlu banyak. Namun, bagaimana jika masih sangat sederhana? Maka tidak ada pilihan untuk memperdalam isi resume kita dengan memberikan tambahan isi dengan sumber lain. Namun, tidak boleh melenceng dari apa yang telah disampaikan narasumber. Naskah yang nanti ditambahi dengan sumber lain, juga harus ditambahkan daftar pustakanya. Supaya lebih valid terkait isi buku serta menghindari plagiasi.

Baca Juga:

Menerbitkan Buku Semakin Mudah

Saat ini menerbitkan buku semakin mudah. Kita dapat menuliskan hal apapun kemudian diterbitkan, ber-ISBN pula. Tinggal kita memotivasi diri kita untuk tetap bersemangat menulis tiap harinya. Pilih media yang pas untuk Anda dalam mengumpulkan hasil tulisan. Baik itu blog pribadi, blog keroyokan maupun di notebook masing-masing. Walaupun tulisan itu sekedar hasil resume catatan yang ingin diterbitkan menjadi sebuah buku.

Yakinlah, apa yang kita tulis pasti akan bermanfaat bagi orang lain. Selama kita mempunyai niat yang baik untuk menulis. Jalan sudah sangat jelas dan terbuka melalui pelatihan ini. Sehingga jangan berhenti di tengah jalan, lanjutkan sampai terbit buku. Tapi jangan pula hanya berhenti satu buku saja. Buku pertama menjadi pelecut buku kedua, buku kedua pelecut ketiga, dan seterusnya.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

8 Responses

  1. nunung says:

    Luar biasa….keren…

  2. Resume yagn bagus, tidak begitu panjang, tetapi semua materi terangkum dengan baik

  3. Ilalang says:

    Selalu kagum dengan karya bapak ini

  4. Ifmellia says:

    Selalu punya gaya tersendiri dalam memaparkan. Salam literasi pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *