Berprofesi Guru, Sekarang Menjadi Pengusaha Sukses

Tak ada yang boleh menyalahkan seorang guru juga punya kegiatan sebagai pengusaha. Itu sah-sah saja. Tidak sekedar alasan faktor ekonomi dimana gaji guru terlebih guru honorer tak seberapa. Namun, menjadi guru yang pengusaha suatu nilai tambah tersendiri. Bahkan sesuatu yang positif.

Apalagi pada saat ini, gerakan entrepeneurship sangat digalakkan oleh pemerintah. Pemerintah sangat mendorong adanya pertumbuhan UMKM yang semakin banyak dan berkembang di Indonesia. Jadi, menjadi seorang teacherpreneur bukan sesuau yang tabu lagi, bahkan ini menjadi suatu keharusan.

Menjadi seorang guru yang profesional sekalgus pengusaha tentu tidaklah mudah. Pembagian waktu harus tepat. Skala prioritas setiap kewajiban harus disusun agar semua berjalan dengan baik. Sudah menjadi barang gunjingan barangkali, jika seorang guru “nyambi” jualan, kebanyakan tugas utama mengajar akan terbengkalai.

Seolah sekolah menjadi prioritas kedua, karena lebih memprioritaskan usahanya dibandingkan mengajarnya. Namun, itu dikembalikan lagi pada pribadi guru yang melakukan dua kegiatan sekaligus. Untuk guru yang baik, tentu profesionalitas sebagai guru harus tetap dijaga sambil mengembangkan usaha.

Malam ini memang tema menulis agak berbeda dari biasanya. Narasumber kali ini adalah seorang guru yang mempunyai kegiatan luar biasa banyak. Terlebih lagi kegiatan yang berhubungan dengan usaha. Betti Risnalenni yang dulunya pernah menulis buku tentang Aritmatika ini merupakan sosok guru yang inspiratif.

Dimulai dengan “menjual” tulisan dari buku Aritmatika yang ia tulis, kemudian mengadakan pelatihan-pelatihan hingga mempunyai cabang-cabang yang sangat banyak. Tak kurang 24 cabang di sekitar Bekasi. Belum lagi cabang-cabang di luar kota Bekasi.

Pada tahun 2003 mulai mendirikan sekolah yang dimulai dari TK dan TPQ. Hingga berkembang mendirikan SD pada tahun berikutnya. Mendirikan sekolah juga bagian dari usaha, walaupun profit bukanlah alasan yang utama.

Karena selama menjalankan niat untuk kebaikan dan kemuliaan tentu profit akan mengikut dengan sendiri. Terlebih mendirikan sekolah mampu berkontribusi bagi pendidikan Indonesia, terutama karena ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa.

Jadi Guru Profesional, Harus Totalitas

Menjadi guru profesional memang tidak akan mudah. Banyak tantangan dan tuntutan. Terlebih profesionalitas merupakan satu dari kompentensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Ada empat kompetensi dasar bagi seorang guru, yaitu  kompetensi profesional, pedagogis, kepribadian dan sosial.

Dalam skala besar, guru profesional harus mampu meramu keempatnya untuk kemaslahatan peserta didik dan masyarakat secara umum. Mampu secara profesional dengan menguasai kompetensi bidang yang dimiliki. Selain itu, juga harus mampu merancang dan menerapkan pembelajaran yang baik untuk peserta didiknya. Karena itu bagian dari kompetensi pedagogis seorang guru.

Jiwa kewirausahaan seorang guru bisa mencakup dua kompetensi terakhir, yaitu komptensi pribadi dan kompetensi sosial. Seorang pengusaha pasti mempunyai banyak karakter diri yang positif. Disiplin, kuat mental, berani ambil resiko, percaya diri serta kepemimpinan yang baik.  Dan, ini bagus untuk dicontohkan kepada peserta didik di sekolah.

Selain itu, kewirausahaan seorang guru tentu mempunyai dampak yang luas kepada masyarakat sekitarnya. Walaupun tujuan akhirnya tetap profit, tetapi tidak sedikit orang yang mampu berwirausaha demi menebar kebaikan dan manfaat untuk orang di sekitarnya. Dan, ini sangat masuk dalam kategori kompetensi sosial bagi seorang guru.

Baca Juga:

Oleh karena itu, pesan dari Bu Betti jika menjadi seorang guru bisa menjadi seorang pengusaha, mengapa tidak? Bukankah ketika sudah kaya, sudah seharusnya, guru yang profesional malah lebih totalitas untuk mengajar? Kalau bisa mencapai dua hal yang berbeda dengan mengkolaborasikan diantara keduanya, mengapa tidak?

Tentu ini juga membutuhkan skala prioritas. Bagi seorang Betti, skala proritas yang harus dilakukan adalah selesaikan urusan dapur rumah dulu. Agar lebih tenang dalam bekerja. Karena dalam bekerja, semuah hasilnya akan kembali untuk keluarga.

Sehingga prioritas keluarga menjadi langkah pertama. Kemudian, rancang dan rencanakan pembelajaran yang baik. Hal ini sebagai bagian profesionalitas kita sebagai guru. Baru kemudian skala terakhir, adalah mengembangkan usaha.

Bentuk Team Work di Sekolah, juga Usaha

Membentuk team work yang baik, tidak melulu jabatan kita adalah kepala sekolah atau pemilik yayasan dari suatu sekolah. Bagi kita yang guru biasa, team work yang baik adalah mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama warga sekolah, khususnya rekan guru. Mengapa demikian?

Komunikasi yang dijalankan dengan baik mampu meningkatkan rasa toleransi dan kepahaman kawan terhadap kondisi kita. Jika suatu saat ada sesuatu yang mendadak dan penting untuk dilakukan, sedangkan harus mengorbankan waktu di sekolah, maka kita bisa mengkomunikasikan dengan rekan sejawat.

Selama kita menjalin komunikasi dengan baik serta berperilaku positif di sekolah, tentu kemudahan akan didapat. Mulai dari kelonggaran jadwal, penggantian jadwal mengajar dan lain sebagainya. Hal ini memberikan solusi bagi kedua belah pihak, kita sebagai guru, juga sekolah tidak dirugikan. Tapi intinya, berawal dari kita terlebih dahulu untuk memberikan kontribusi dan peran yang positif bagi sekolah. Sehingga semua masalah terselesaikan.

Begitu pula, usaha yang dirintis juga harus dibuatkan sistem agar team work terjaga dengan baik. Tidak melulu kita membayangkan punya karyawan. Jika usaha yang dirintis masih sebatas rumahan, atau dikerjakan sendiri dengan suami. Maka pandai-pandai saja mengaturnya.

Contoh kecil saja, rekan guru saya, suami istri berprosesi guru. Selain mengajar terkadang juga berjualan martabak mini secara online. Ketika dapat pesanan, kulit martabak dibuat sang istri pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah. Siangnya jika sang suami tidak ada jadwal mengajar, menyiapkan bumbunya.

Di sini, untuk guru honorer diberikan keleluasaan jika tidak ada jam mengajar, bisa tidak datang ke sekolah. Karena barangkali mempunyai usaha sampingan agar menutupi biaya hidup sehari-hari. Setelah pulang sekolah digoreng bersama-sama, atau salah satu karena harus memegang anak yang masih kecil.

Siang atau sore hari, sang suami mengantar masakan sesuai alamat pemesan. Saya pikir, ini juga masuk dalam team work yang baik, antara suami dan istri yang berprofesi sebagai guru juga menjalankan usaha  

Guru sekaligus Pengusaha (Teacherpreneur)

Tak perlu banyak teori sebenarnya, bahwa pernyataan setiap guru harus mempunyai jiwa enterpeneurship. Mengapa begitu? Ada banyak hal karakter positif yang dipunyai oleh seorang pengusaha. Yang mana itu bisa menjadi teladan dan contoh bagi muridnya. Namun, teori-teori yang bermunculan mengenai kata “usaha” tidaklah semudah diucapkan. Pada kenyataannya, membutuhkan konsentrasi dan daya tahan yang kuat untuk bisa bertahan menjadi seorang pengusaha.

Dan ini tidak mudah, apalagi harus dibarengi dengan kegiatan lain, seperti mengajar. Kegiatan yang tidak boleh dianggap sebagai pilihan kedua dalam hidup. Artinya, jika sudah memutuskan terjun ke dunia pendidikan dan pengajaran, maka harus totalitas. Karena berkaitan dengan maju atau tidaknya suatu komunitas masyarakat dimana kita tinggal. Karena profesi guru adalah aktor utama dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa.

Oleh karenanya, jika seseorang bisa menjalankan keduanya dengan sangat baik, bisa saya katakan, orang itu bukan orang biasa. Ya, Selama bisa menjaga keduanya berjalan secara berimbang dan konsisten maka patut kita acungi jempol. Mengajar jalan, wirausaha juga jalan. Tetapi tidak mengganggu satu sama lain. Karena pilihan prioritas yang sudah diperjelas sedari awal.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

12 Responses

  1. yuliyati says:

    Tulisan pak tama selalu bikin saya iri….. Pengin bisa nulis kaya pak tama…. Mksh sdh jd insporasi buat sy….. Sukses selalu

  2. Momo DM says:

    Mantap, Pak. Suka dengan pernyataan ‘mengajar jalan, wirausaha juga jalan”. Sebuah motivasi bagi saya yang selain mengajar juga jualan.

  3. Ida A says:

    Resume lengkap, kalimat mudah dipahami, dan tampilan blog juga bagus

  4. Astuti Sipanawa says:

    Sih nyaman berada di ruang ini. Rapi jelas dan mata bisa bergerak leluasa. Ada yang kurang mengerti pak satu saja. Penulisan kata Dan, ( kenapa ada koma?). Salah ketik mungkin,? atau ada kaidahnya?. Terima kasih banyak. Yg jelas mantap keseluruhan

    • yudhistira says:

      Terima kasih konfirmasinya Bu, secara aturan dan memang tak boleh di pakai di awal kalimat. Namun, ini juga menjadi perdebatan, dari referensi yg saya pakai ada juga yg membolehkan kata dan di awal kalimat, tapi setelah itu diikuti tanda koma.
      Terima kasih. Sama-sama belajar kita ya bu

  5. Didi says:

    Saya suka minder kalau masuk blog ini. Salut pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *