Menulis Buku yang Diterima Penerbit

Mengapa menulis buku harus bisa tembus penerbit? Jawabannya singkat saja, mengapa pula Anda menulis tapi hanya berserak berupa file di dalam laptop? Tentu setiap tulisan, punya makna sendiri. Ada kalanya hanya untuk pemuas perasaan, karena dilanda kesepian. Sehingga tulisan menjadi ruang privasi, bukan untuk konsumsi. Adakah seperti itu? Ada.

Tapi kembali lagi perihal setiap tulisan punya makna sendiri. Terlepas itu adalah ruang privasi, jika mampu “menglamufasekan” suatu tulisan, bisa jadi punya dampak yang luar biasa bagi orang lain. Bukankah itu menjadi nilai ibadah yang besar?

Saya pernah mengatakan di resume sebelumnya, “Setiap tulisan, sesederhana apa pun itu, jika berani untuk dipublikasikan, bisa jadi berubah menjadi tulisan inspiratif bagi orang lain. Karena setiap tulisan punya “klik”-nya sendiri.” Lalu, mengapa masih malu untuk diterbitkan? Siapkan naskah dengan baik, percaya dirilah, dan kuatkan mental, lalu kirimkan. Bismillah.

Joko Irawan Mumpuni, Direktur PT ANDI

“Penerbit tidak menghakimi suatu tulisan itu baik atau tidak baik. Benar atau tidak benar. Tetapi dipelajari kemungkinan bisa diterbitkan atau tidak.” Kira-kira itulah sepenggal pernyataan dari Bapak Joko Irawan Mumpuni, selaku Direktur Penerbit PT. Andi.  Ini menjadi gambaran bahwa setiap penulis mempunyai peluang untuk bisa diterbitkan oleh penerbit, apalagi penerbit mayor. Di dalam pertemuan kali ini banyak hal yang dikupas oleh beliau terutama seluk beluk dunia penerbitan yang menjadi spesialisasi beliau.

Hal ini sangat membantu dalam memahami bagaimana sistem kerja penerbit secara umum. Gambaran ini pulalah yang menjadi inspirasi dan daya pendorong untuk bersemangat menerbitkan buku. Terlepas status sebagai penulis pemula, materi kali ini justru memberikan refleksi sampai sejauh mana level kepenulisan yang dimiliki. Karena standar yang dimiliki penerbit mayor sangatlah tinggi.

Bapak Joko Irawan Mumpuni, menceritakan PT Andi setiap bulan menerima 300 sampai dengan 500 naskah buku yang masuk. Namun, hanya 40 judul saja yang akan diterbitkan. Bisa Anda bayangkan, bagaimana ketatnya persaingan di penerbit mayor? Data tersebut bisa menjadi refleksi diri, kita harus mengasah kemampuan menulis kita sebaik mungkin. Kemampuan membaca, kemampuan menulis dan tentu saja kemampuan membaca pasar agar mendapatkan ide yang relevan, supaya lebih mudah untuk diterbitkan.

Berada di Level Menulis Manakah Anda?

level menulis

Perhatikan gambar di atas baik-baik!

Tidak semua dari kita mempunyai kemampuan yang sama. Ada yang memang sudah piawai, ada juga yang memang baru tahap belajar atau memulai. Terkait dengan dunia tulis menulis. juga seperti itu. Kita punya perbedaan kemampuan dan pengalaman tentunya.

Masing-masing dari kita bisa melihat, sampai di titik mana, khususnya terkait dunia menulis. Untuk bisa naik level ke tangga lebih tinggi dibutuhkan usaha dan cara yang besar. Tak boleh menyerah tapi juga tidak boleh menjalani asal-asalan. Tentu harus punya langkah yang tertarget dan strategi yang jelas. Supaya cepat naik level dengan cara yang istimewa, jangan biasa-biasa saja.

“Penulis Profesional adalah penulis amatir yang tak pernah berhenti dan mengundurkan diri.” (Richard Bach)

Baca Juga:

Jangan Takut Ditolak

Ingat kata pak Joko, penilaian naskah bukan bagus atau tidak bagus, tapi bisa atau tidak kemungkinan diterbitkan. Itu artinya bisa banyak hal. Jika naskah tertolak, bisa jadi karena pasar tidak membutuhkan naskah Anda, karena ide sudah tidak relevan. Market pasar sudah kadaluarsa jika disodorkan buku Anda. Alhasil, buku tidak akan laku. Artinya, nilai industri atau bisnis sangat berperan besar. Ingat ya, kita bicara industri perbukuan atau penerbitan. Maka naskah yang diterbitkan tentu yang punya pangsa yang besar, salah satu pertimbangannya relevan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Tak perlu takut untuk ditolak. Masih banyak yang lainnya. Ada 1000 penerbit lebih di Indonesia yang bisa dituju jika naskah ditolak. Diperbaiki dahulu, kemudian bisa dikirimkan lagi ke penerbit lain. Apalagi sekarang banyak bermunculan penerbit indie dan self publishing yang berkualitas. Itu bisa menjadi alternatif lainnya.

Justru kalau saya boleh menambahkan, jika kita masih pemula, maka penerbit indie ataupun self publishing menjadi pilihan realistis dan logis. Penulis pemula membutuhkan waktu untuk menciptakan branding atas dirinya. Semakin banyak karya yang dibuat dan dipublikasikan maka akan semakin menguatkan integritas kita sebagai penulis.

Menerbitkan buku di penerbitan indie bisa membantu hal itu. Rekam jejak beberapa karya buku Anda, tentu akan menjadi pertimbangan bagi penerbit lain, khususnya mayor. Minimal adalah naskah Anda bukan naskah asal-asalan. Naskah Anda pasti sudah melalui riset dan penyuntingan yang lebih baik.

Tidak mungkin Anda sebagai penulis dengan beberapa karya yang sudah tebrit, tapi menulis buku yang akan disodorkan ke penerbit mayor isinya asal-asalan. Tentu tidak, bukan? Itulah mengapa saya katakan personal branding sebagai penulis, sangat terbantu dengan adanya self publishing ataupun penerbit indie.

Jangan Takut Terjebak Plagiasi

“Menulis satu judul buku hanya dengan referensi satu judul buku yang lain disebut plagiator, tetapi jika menulis satu judul buku dengan referensi banyak judul yang lain disebut riset”. (Joko Irawan Mumpuni)

Saya pikir ini quote yang menarik. Salah satu alasan seseorang tidak berani menulis karena takut dianggap plagiasi. Namun, quote di atas sejatinya mengajarkan pada kita, setiap tulisan membutuhkan banyak referensi untuk menjadi tulisan yang baik. Sehingga dikatakan itu adalah riset. Riset yang baik tentu dipilih referensi yang relevan terlebih lagi up to date atau terbaru.

Hanya saja, etika dalam menulis referensi tentu harus dipahami, lebih khusus lagi ditaati. Supaya tidak dianggap plagiasi oleh orang lain. Bagaimana aturannya, saya pikir kita sebagai guru pasti melek literasi. Oleh karenanya, bisa kita cari referensi-referensi dari buku pedoman penulisan bahasa yang baik dan benar, maupun internet dengan sumber yang terpercaya.

Mencari Tema yang Populer

Buku yang diterbitkan lebih condong pada dua hal, pertama buku yang mengulas tema yang tren saat ini. Ini wajar karena ceruk pasar terbuka lebar. Maka penerbit dengan senang hati merespon untuk menerbitkan buku yang membahas sesuatu yang lagi tren. Sebagus apa pun naskah yang kita punya, jika tema yang dibahas sudah melewati masa jayanya, peluangnya pasti kecil untuk diterbitkan. Mengingat peminatnya sudah langka, sehingga hanya merugikan penerbit jika dipaksakan diterbitkan.

Kedua, buku yang mempunyai tema masa pembahasan yang relatif lama. Buku yang tidak membahas sesuatu yang hilang ditelan waktu begitu saja. Artinya, grafiknya stabil karena buku tersebut dibutuhkan setiap waktu dan setiap saat. Bahkan pada momen tertentu akan besar kuantitas penjualannya. Contohnya buku pemasaran atau buku mata pelajaran.

Untuk mengecek tema populer bisa digunakan Google Trends seperti yang dicontohkan Pak Joko Irawan Mumpuni. Kita bisa melihat grafik popularitas terhadap suatu tema yang dipilih. Hal ini membantu kita mendapatkan ide baru dalam menulis. Meriset kata/tema lebih tepatnya arti dari penggunaan Google Trends ini.

Google Trends

Selain itu, Pak Joko Irawan Mumpuni juga memberikan gambar tema-tema apa saja yang saat ini mati dan populer di saat padnemi Covid-19. Ini memancing kita untuk meneliti tema-tema apa saja yang bisa kita jadikan sebuah ide buku. Kita bisa  memilih tema yang menarik untuk kita tulis sesuai dengan minat (kesukaan) atau yang dikuasai.

Tema yang “hidup” setelah COVID-19

Seluk Beluk Penerbitan

Sesuai dengan apa yang saya sampaikan di atas, pembahasan kali ini terkait dengan seluk-beluk dunia penerbitan. Bapak Joko Irawan Mumpuni, selain sebagai Direktur PT. ANDI, beliau juga menjabat sebagai Ketua I IKAPI wilayah Jogjakarta. Dengan kapasitas beliau seperti itu, informasi yang diberikan  seakan bongkahan berlian yang siap untuk kita tangkap. Banyak hal yang bisa kita diambil dan  menjadi modal besar. Apabila kita mempunyai niatan menerbitkan sebuah buku, khususnya pada penerbit mayor

1. Jenis-Jenis Buku di Penerbitan

Di dalam dunia penerbitan, ada dua kelompok besar buku-buku yang diterbitkan. Pertama, buku teks adalah buku yang digunakan untuk proses belajar mengajar dari PAUD sampai perguruan tinggi. Untuk perguruan tinggi terbagi menjadi buku yang sifatnya eksak dan non eksak, sedangkan untuk kelas dasar dan  menengah disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak sekolah.

Kedua, buku non teks adalah buku yang tidak selalu digunakan dalam proses pembelajaran. Buku ini meliputi buku fiksi dan buku nonfiksi. Kalau buku fiksi saya kira kita sudah mengetahui dengan benar macam-macamnya, semisal komik, sastra, novel atau kumpulan cerpen. Sedangkan buku non teks yang berkarakteristik nonfiksi, dapat meliputi buku anak, umum populer, komputer, hobi maupun agama.

Baca Juga:

2. Kuadran Buku di Penerbit

Jika ingin mengetahui jenis buku apa yang akan diterbitkan penerbit, bisa dilihat kuadran buku seperti berikut ini.

Kuadran naskah yang diterbitkan
  • Tema tak Populer, Penulis Populer

Naskah buku ini bisa diterbitkan oleh penerbit. Walaupun tema tak begitu populer, namun karena penulis yang populer kemungkinan diterbitkan sangat besar. Perhitungan ini didasarkan karena penulis yang populer mempunyai penggemar yang spesifik. Mereka mempunyai ketertarikan atau fanatisme terhadap tokoh tersebut. Sehingga kemungkinan terjual tetap besar.

  • Tema Populer, Penulis Populer

Naskah buku ini merupakan naskah buku yang sangat disukai oleh penerbit. Karena double keuntungan yang diperoleh. Tema populer tentu dikejar oleh orang lain, karena lagi hangat-hangatnya. Sedangkan penulis populer, seperti penjelasan di atas, mereka mempunyai penggemar yang spesifik. Kemungkinan buku akan laris sangat besar. Maka penerbit dengan senang hati menerima dan menerbitkannya.

  • Tema tak Populer, Penulis tak Populer

Naskah tipe ini sudah tentu kemungkinan diterima sangat kecil. Karena tidak ada daya dukung yang menguntungkan dari segi industri penerbitan. Buku yang diterbitkan, bisa dikalkulasikan tidak akan mendapat respon yang baik di pasar. Sehingga kerugian sudah pasti bisa ditebak dan diramalkan.

  • Tema Populer, Penulis tak Populer

Bagi seorang penulis pemula, mungkin ini yang pilihan yang paling tepat. Kemungkinan diterbitkan tetap ada, karena tema yang populer. Faktor tema yang lagi hangat-hangatnya menjadi daya tarik sendiri orang mau membeli buku. Sehingga penerbit tinggal melihat sejauh mana penulis menulis buku dengan pembahasan tema yang mendalam. Jika pembahasan mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan pasar, begitu pula diikuti dengan pembahasaan mendalam, tentu kemungkinan diterbitkan sangat besar.

3. Ekosistem Penerbitan

Di dalam dunia penerbitan, stakeholder yang terlibat sangat lah banyak. Mungkin sebagai penulis tidak menyadari, banyak orang yang terlibat di dalam proses penerbitan dan percetakan buku. Penulis mampu menghidupi banyak orang melalui proses yang ribet dalam proses penerbitan dan pemasaran buku.

Dalam konsepnya, ekosistem penerbitan berkaitan dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kalau disederhanakan, maka ada empat unsur utama, yaitu penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca. Alur ini saling melengkapi dan berurutan satu dengan yang lainnya. Keempatnya tidak bisa tepisahkan dalam menggerakkan perekonomian dari bidang kepenulisan dan penerbitan buku.

4. Sistem Penilaian di Penerbitan

Bagi yang masih penasaran, bagaimana kriteria naskah buku bisa diterima atau ditolak penerbit? Bapak Joko Irawan Mumpuni berbagi terkait bagaimana penerbit menilai sebuah buku. Secara garis besar, ada empat item penilaian yang dipakai oleh penerbit.

Pertama, editorial mencapai bobot lebih kurang 10 persen. Itu artinya, tulisan yang tak terlalu bagus dari segi tata bahasa masih sangat ditoleransi oleh penerbit. Faktanya, hanya menempati 10 persen dari penilaian. Hal itu dikarenakan penerbit mempunyai banyak editor yang akan mengurus hal itu. Terpenting tema yang ditulis populer, punya daya jual yang baik. Ataupun penulis yang menulis naskah orang yang populer, meskipun tulisan yang dibuat ala kadarnya.

Kedua, peluang potensi pasar mendapatkan bobot penilaian lebih kurang 50%. Hal ini wajar, karena kita bicara industri. Maka pertimbangan utama adalah pergerakan pasar seperti apa. Sehingga produk juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Supaya buku dapat laku keras di pasar, karena peminatnya banyak dengan tema yang lagi hangat diperbincangkan.

Ketiga, keilmuan mendapatkan bobot penilaian sebesar 30%. Ini berkaitan dengan latar belakang penulis. Tidak melulu kita harus bergelar profesor atau doktor untuk menulis. Sepanjang pembahasan buku bagus maka keilmuan seseorang tidak mendapatkan penilaian yang cukup besar.

Keempat, reputasi penulis mencapatkan bobot penilaian sebesar lebih kurang 10 – 100%. Poin ini juga menjadi pertimbangan sangat penting karena melihat reputasi penulis. Jika memang penulis mempunyai reputasi yang bagus, maka peluang penerbitan buku juga sangat besar. Karena dampak reputasi penulis membawa keuntungan sendiri bagi buku yang telah diterbitkan.

Baca Juga:

5. Penghambat Industri Penerbitan

Walaupun jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia cukup besar tiap tahunnya, namun ada beberapa masalah yang menjadi penghambat utama di industri penerbitan. Permasalahan utama yang menjadi budaya masyarakat Indonesia tentang rendahnya minat baca dan menulis. Masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan kegiatan literasi. Sampai kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia harus disisipi dengan kegiatan literasi. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi sejak dini.

Permasalahan kedua, adalah pelanggaran hak cipta. Contoh paling nyata adalah pembajakan karya cipta. Buku yang ditulis oleh orang, dibuatkan pdf kemudian di-share dengan bebas tanpa seijin dari penulisnya. Tindakan ini sangat merugikan si penulis yang telah berusaha keras menulis buku yang baik. Selain itu, juga merugikan penerbit buku. Efeknya juga dalam pergerakan ekonomi dari bidang penerbitan buku.

Orang membaca buku dari ebook ilegal yang bisa diunduh bebas di internet tanpa biaya sepeser pun. Penghargaan materi untuk penulis tidak ada. Selain itu, penerbit tidak mendapatkan keuntungan dari ebook tersebut. Efeknya, juga terasa pada karyawan. Jika penerbit tidak berjalan normal, bisa jadi PHK terjadi. Karena roda perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya.

6. Proses Menjadi  Buku

Proses menulis buku dan menerbitkannya sesungguhnya sangat ribet. Melewati perjalanan yang sungguh panjang dan berliku-liku. Bahkan bisa bolak-balik antara penerbit dan penulis jika sudah disepakati untuk diterbitkan. Tujuannya untuk mendapatkan formula dan isi buku yang baik. Buku yang mempunyai isi mendalam, bagus secara tata bahasa, cover yang menarik orang lain serta pernak-pernak yang ada di dalam buku yang mendukung isi dari buku tersebut.

Proses naskah menjadi buku

7. Kriteria Penerbit yang Baik

Dengan banyaknya jumlah penerbit, dengan tipe yang berbeda-beda, kita sebagai penulis mempunyai keleluasaan untuk memilih penerbit yang sesuai naskah kita. Oleh karenanya, memilih penerbit tidak bisa sembarangan. Karena harapan kita, naskah kita bisa menjadi naskah yang laku di pasaran.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih penerbit, antara lain:

  1. Memiliki visi dan misi yang jelas
  2. Memiliki bussines core lini produk tertentu
  3. Pengalaman penerbit
  4. Jaringan pemasaran
  5. Memiliki percetakan sendiri
  6. Keberanian mencetak jumlah eksemplar
  7. Kejujuran dalam pembayaran royalti.

Menulis Buku itu Berat

Menulis buku bukanlah hal sederhana. Bahkan boleh dikatakan berat. Namun, langkah seorang penulis profesional, diawali dari menulis secara amatiran. Semua berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Tinggal sejauh mana kemauan dan langkah strategi apa yang disusun untuk membuatnya menjadi lebih ringan. Pasti semua akan indah pada waktunya.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

12 Responses

  1. Momo DM says:

    Resume yang lengkap dan mantap, Pak Taufik. Sekadar masukan untuk memudahkan swasunting, di antaranya yaitu ‘mengklamufasekan’, mungkin maksudnya ‘mengamuflasekan’ ya, Pak? Lanjut juga saran perbaikan pemakaian partikel -lah (ada di PUEBI). Terakhir, saya kurang ‘sreg’ adanya dragging ke paragraf tentang level menulis. Menurut saya lompatannya kejauhan, Pak. Bisa diperhalus dengan menambahkan beberapa kalimat. Tabik.

  2. resumenya mantap..sukses pak…

  3. Wah resumenya mantaaap tampilannya enak banget dimata…

  4. Adam says:

    Pak topik sudah banyak perubahan tapi beberapa saja yg harus dipercantik

  5. Rizky Kurnia Rahman says:

    Bagus pembahasan, lengkap sekali.
    Namun, saya mau kasih saran, ada subjudul “Jangan Takut Di Tolak Penerbit”
    Itu seharusnya: Jangan Takut Ditolak Penerbit. Kata “di” sebagai awalan, bukan kata depan.
    Itu saja komentar saya.

  6. ida says:

    Isi resume informatif dan sub-sub kontent bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *