Menulis itu Sederhana dan Mudah

Bagaimana membuat tulisan yang penuh dengan energi? Tulisan yang mampu menggugah emosi pembaca. Tulisan yang mampu menyalurkan energi dengan makna yang mendalam. Ternyata itu sederhana dan mudah. Mari simak resume dari saya pada pelaihan menulis pertemuan ketiga kali ini.

Pembicara pelatihan menulis pertemuan ketiga kali ini menghadirkan Pak Dedi Suhendi. Seorang guru dari Pontianak Timur. Beliau lebih akrab dipanggil dengan Ya’ Dedi Suhendi. Mengawali pertemuan kali ini dengan sebuah motto, “Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Semakin banyak ilmu, kita tak akan menyalah orang lain.

Lebih lanjut untuk memotivasi kami para penulis pemula, beliau memberikan kunci keberhasilan seorang penulis. Kunci keberhaslan penulis yaitu dengan menciptakan semangat, motivasi, kemauan, usaha, kosnsitensi dan berdoa. Selain itu, beliau menambahkan mencari orang yang dapat mendorong dan memberikan semangat dalam kegiatan tulis menulis.

Sehingga apa yang kurang dari tulisan, dapat dikoreksi dengan bantuan kritik dan saran orang tersebut. Maka tujuan akhirnya tulisan akan lebih berenergi dengan luapan emosi yang tersirat di dalam pemilihan kata.

Baca juga:

Resume 1: Membaca Kata Menuliskan Makna

Resume 2: Man Jadda Wajada: Tetap Produktif di Usia Senja

Tak Perlu Muluk, Mulailah dengan Hal Sederhana

Untuk penulis pemula, biasanya memulai tulisan terasa berat. Membuat satu pragaraf pun, terkadang sampai berulangkali dirubah. Wajar. Saya sendiri juga mengalaminya. Susahnya menyusun suatu kalimat, satu paragraf bahkan satu halaman tulisan.

1. Menulis sesuai Minat, Keahlian atau Pengalaman

Menulis pada masa awal-awal, perlu menuliskan dengan kalimat sederhana. Tulisan pendek tapi dapat mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain. Tidak perlu juga mengambil tulisan yang berat. Pilihlah tema dan topik yang seuai dengan kesukaan. Ataupun memilih tema sesuai keahlian. Bahkan paling sederhana, tulislah berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui. Ini lebih sederhana dan mudah. Seharusnya.

2. Lupakan Aturan Menulis

Menulis itu mengalirkan kata menjadi sebuah makna. Jangan terbelunggu dengan aturan-aturan yang ada. Bukan berarti tidak penting, namun itu akan menyulitkan jika kita masih pemula. Kita terpaku pada aturan, maka ditengah jalan tulisan bisa terhenti. Pikiran kita terbebani dengan ketakutan dan keraguan karena kesalahan. Tak bisa lancar berpikir dan mengalirkan ide. Tuliskan saja. Koreksi kemudian. Sesederhana itu.

3. Menulis Semudah Update Status

Menulis update status di story media sosial terlihat begitu mudah. Simpel dan ala kadarnya. Namun, terkadang itu membawa pesan yang mengena. Walaupun memang tidak semua bisa melakukannya. Tapi lihatlah kesederhanaan itu sebagai motivasi. Menulis dengan mudah dengan kalimat pendek dan sederhana.

Lihatlah Sekitar, Inspirasi Selalu Ada

Salah satu permasalahan menulis bagi pemula adalah memulai dari mana. Ide yang tak pernah muncul. Padahal, banyak hal di sekitar kita bisa menjadi bahan tulisan kita. Satu paragraf di dalam surat kabar, bisa menjadi ide tulisan kita. Tulislah, catatlah ide itu. Jangan dilepas. Jika tak sempat menuliskan dalam satu rangkaian tulisan. Buatkan daftar ide itu, eksekusi bisa belakangan. Namun, jangan terlalu lama jeda eksekusinya, takut kelamaan mengendap lupa apa yang dituliskan dari ide awal.

Ketika sudah memulai tulisan, biasanya ide akan teurai menjadi kalimat-kalimat. Apalagi jika sudah menyiapkan referensi menulis dengan ide yang serupa. Itu akan menguatkan tulisan kita. Karena berasal dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga  akan semakin kaya dan bermakna tulisan tersebut.

tips menulis menggugah emosi

Penghayatan Emosi, Memunculkan Energi

Untuk jenis-jenis tulisan tertentu, adakalanya tulisan perlu menambahkan unsur emosi. Emosi memperkuat roh tulisan kita. Emosi dapat menarik ketertarikan pembacanya. Sehingga tulisan sederhana pun bisa meledak sukses karena ada unsur emosi yang dimasukkan penulisnya. Hanya saja unsur emosi di dalam tulisan fiksi dan nonfiksi tentulah berbeda. Kaidah yang berbeda supaya tidak salah makna.

Pada intinya setiap tulisan mempunyai kreativitas dan sudut pandang seni tersendiri. Semua bisa dilihat dari gaya penulisan, pemilihan diksi dan tata aturan yang baku maupun tidak baku di dalam kepenulisan. Tujuan menulis juga mewarnai sudut pandang kreativitas itu. Jika menulis fiksi tentu gaya bahasanya rerata tidak terlalu baku karena akan lebih mengena. Namun, tulisan nonfiksi tentu harus memenuhi kaidah baku, karena konsumsinya berbeda. Karena biasanya untuk referensi orang lain.

Salam Literasi. Selamat Berkarya.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

12 Responses

  1. Excellent, what a good resume!

  2. Rizky Kurnia Rahman says:

    Bismillah…
    Ikut komentar ah…

    Tampilan blog sudah oke dan memang berbeda dengan yang lainnya dengan blogspot.

    Pantas, ternyata pakai WordPress juga.

    Untuk tulisan sudah cukup bagus, memainkan headline H2. Jadi, tulisan ada subjudulnya yang menarik minat pembaca.

    Desain gambar juga cukup menarik. Layaknya dapat pujian untuk blog ini.

    Untuk kata-kata, bisa dibaca lagi panduan dalam bahasa Indonesia, sebab ada beberapa yang masih belum tepat.

    Sukses selalu ya!

  3. Resumenya bagus, tertata dengan beberapa sub bab. Menarik untuk dibaca

  4. Darma Aswita says:

    Resume ya keren pak, pemaparannya mudah dimengerti, dan pilihan katanya juga mudah dipahami. Blognya juga keren.
    Benar-benar menginspirasi.
    Saya mesti belajar ini dari bapak2/ibu2 hebat dalam grup menulis ini.

  5. Adam says:

    Bagus pak, tertata rapih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *