Menulislah maka Engkau akan Abadi

“Menulislah maka Engkau akan Abadi”. (Pramoedya Ananta Toer)

Bagi seorang yang suka menulis, pasti tak asing dengan kata-kata tersebut. Ya, kalimat itu muncul dari salah satu sastrawan terbaik yang dimilik oleh Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kalimat lengkap dari pernyataan itu sejatinya seperti ini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Kemudian orang menerjemahkannya dengan lebih sederhana, “Menulislah, maka engkau akan abadi”.

Prinsip inilah yang mungkin juga menjadi pedoman hidup narasumber kali ini, Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. Seorang purnawirawan Polri yang memiliki gelora yang cukup kuat dalam pengembangan dunia literasi di Indonesia. Terbukti beliau mendirikan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan yang berkecimpung di dalam dunia penerbitan buku ber-ISBN tanpa biaya. Beliau aktif menelurkan karya tulisan dalam bentuk buku sejumlah kurang lebih 30 buku.

Beliau juga aktif menulis di paltform menulis Kompasiana. Selain itu beliau juga mengelola website Terbitkan Buku Gratis. Sebagai bagian dari wadah infromasi terkait penerbitan buku gratis yang beliau dirikan di bawah payung Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Website tersebut juga bisa digunakan oleh setiap orang untuk menulis di dalamnya dengan membuat akun terlebih dahulu.

Sekali Duduk Jadi

Dalam pertemuan kali ini, ada sebuah metode khusus dalam menulis yang beliau sampaikan yaitu “sekali duduk jadi”. Artinya, aktivitas menulis dapat dilakukan dengan sekali duduk selesai. Jangan pernah meninggalkan tulisan dari tempat duduk Anda, jika belum selesai tulisannya. Barangakali supaya ide yang sudah muncul tidak menguap begitu saja. Ide yang muncul dapat mengalir lebih bernas pada saat itu juga. Lebih hangat dan aktual. Jika sudah mantap, segerakan posting ke media tulisan kita. Bisa di medsos atau platform blog masing-masing.

Namun, saya menyadari menulis sekali duduk untuk sebagian orang tidak bisa dilakukan dengan jumlah kata yang panjang. Bisa jadi hanya sampai 300-an kata. Padahal, untuk sebuah blog agar isinya lebih matang, sesuai rekomendasi Google paling tidak 1000-an kata. Tapi, itu juga bukan menjadi patokan penting yang harus membatasi kita. Sepanjang kita mampu menulis sekali duduk,  itu sudah sangat bagus dalam menjaga konsistensi menulis. Ya, saya pikir juga begitu. Menulis sekali duduk membantu ide kita tetap hangat dan aktual. Selebihnya membantu kita tetap konsisten dan produktif dalam menghasilkan tulisan.

Baca Juga:

Muara Menulis adalah Buku

Memang tak semua tulisan harus menjadi sebuah buku. Namun, siapa pula orang yang punya kegemaran menulis tak ingin membukukan tulisannya. Buku adalah mahakarya bagi seorang yang punya minat dan mimpi menjadi seorang penulis. Dengan kata lain, “Buku adalah Mahkota” bagi seorang penulis.

Bagi sebagian orang membuat sebuah buku adalah mimpi. Karena persepsi orang, menulis itu sulit. Padahal, jika menjadi sebuah kebiasaan dan rutinitas, menulis semudah mengayunkan ujung pena. Saya tak bicara bagus atau tidaknya suatu tulisan, itu urusan nanti. Karena semua butuh berproses. Saya juga tidak bicara benar atau tidaknya tata tulisannya. Itu juga berproses.

Yang terpenting, sebuah karya lahir dari nurani yang bersih untuk menghasilkan manfaat bagi orang lain. Sehingga menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik dalam dunia kepenulisan, semisal plagiasi atau penyebaran hoaks. Jika itu sudah dipenuhi, saya yakin tulisan itu akan bagus. Tinggal dipoles sesuai kaidah dan teknik penulisan yang baik.

Penerbit Mayor tak Sembarang Terima Naskah

Siapa yang tidak mau bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor? Saya yakin semua orang mau. Karena banyak keuntungan yang didapat. Mulai dari biaya penerbitan yang gratis, royalti yang besar, sampai ada rasa bangga tersendiri yang dirasakan oleh penulis pemula. Namun, impian itu juga terasa susah diraih bagi seorang penulis pemula. Bukan berarti tidak bisa, namun peluangnya memang kecil. Maaf, bukan menyurutkan semangat. Tapi ini mesti dipahami sedari awal.

Penerbit mayor tentu akan sangat ketat menjaga namanya. Karena nama juga menggambarkan kualitasnya. Artinya, setiap naskah akan diseleksi sangat ketat. Supaya sesuai dengan visi, misi dan kualitas yang sudah terjaga selama ini. Oleh karena itu, penulis pemula yang belum masuk database mereka, pasti akan diseleksi lebih ketat.

Apakah tulisan penulis pemula jelek, sehingga susah masuk penerbit mayor? Jawabannya saya kira relatif juga. Pasti tetap ada penulis pemula yang tulisannya bagus. Namun, hal yang wajar juga jika tulisan penulis pemula belum memenuhi kriteria penerbit mayor. Karena, kita sebagai penulis pemula masih berproses.

Maka dari itu, penerbitan indie terkadang menjadi alternatif pilihan yang logis. Bahkan bisa dibilang menjadi langkah “loncatan” untuk menuju penerbit mayor. Jika pakai penerbit indie, animo pembaca sangat baik. Bisa jadi, suatu saat nanti tulisan kita juga akan diterima bahkan dicari oleh penerbit mayor. Oleh karena itu, saat ini fokus kita adalah bersemangat dalam berproses menjadi lebih baik. Dan keputusan masuk dan ikut serta dalam pelatihan menulis bersama Om Jay dan kawan-kawan menjadi satu pilihan yang tepat.

Baca Juga:

YPTD: Setiap Tulisan itu Bagus, selama Bukan Plagiat dan Hoaks

Pak Thamrin Dahlan mengatakan bahwa setiap tulisan itu bagus, asalkan tidak mengandung plagiat dan hoaks. Kualitas tulisan sangat bertingkat dan beragam. Semuanya ada prosesnya. Sehingga bagi penulis yang pemula masih malu dan ragu jika ditolak penerbit yang besar, YPTD adalah salah satu solusinya.

YPTD siap membantu siapa pun untuk menerbitkan bukunya. Karena menyadari bahwa semua orang perlu berproses. Terlebih di dalam dunia kepenulisan. Asalkan tidak mengandung plagiasi dan hoaks, maka boleh-boleh saja diterbitkan. Hal ini dilakukan karena salah satu tujuan utama YPTD adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas literasi di Indonesia.

Pengabdian Ikhlas Tak Perlu Tanda Jasa Bersebab

Pada akhirnya, semua hal yang kita lakukan sebagai penulis mempunyai tujuan akhir pengabdian terhadap negara. Pengabdian untuk membumikan literasi menjadi bagian kebutuhan masyarakat Indonesia. Supaya sumber daya manusia menjadi lebih baik lagi dengan tingkat pengetahuan dan keilmuan yang mumpuni. Itulah kiranya, pengabdian yang dilakukan YTPD dengan membantu para penulis menerbitkan buku ber-ISBN dengan gratis. Ya, itulah bentuk pengabdian ikhlas tak perlu tanda jasa bersebab. Karena sejatinya, kemajuan negara salah satunya ditandai dengan semaraknya budaya literasi yang baik oleh masyarakatnya. Dengan literasi yang baik, maka dewasalah pola pikir masyarakat Indonesia.

Salam. Selamat Berkarya.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

13 Responses

  1. Rizky Kurnia Rahman says:

    Bismillah, ikut komen ya Pak.
    Tulisannya bagus dan rapi, hampir tidak ada kesalahan penulisan. Format tulisan ini juga enak dibaca. Isinya lengkap. Pokoknya, sukses terus ya, Pak! SIp!

  2. Min Hermina says:

    Tulisan pak Tama tidak diragukan lagi. Resume yang tertata apik serta tampilan blog yang elegan, menambah betah pembaca untuk duduk berlama-lama menikmati rangkaian kata yang disajikan.

  3. Tulisannya menarik untuk dibaca, tampilan blognya juga bagus….mantul pak

  4. Kereen resumenya, informatif dan enak dibacanya

  5. Kereen resumenya, informatif dan enak dibacanya

  6. gimana komennya ya,, udah bagus begini….TOP dah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *