PILIH JADI PENULIS FIKSI ATAU NONFIKSI?

Mau jadi penulis fiksi? Atau menjadi penulis nonfiksi? Sebagai seorang penulis tentu harus memutuskan dulu jenis naskah yang akan dibuat. Karena keduanya punya karakteristik yang sangat berbeda. Pendekatan dalam penulisannya juga akan berbeda. Begitulah kiranya salah satu pesan narasumber pertemuan kedelapan pelatihan menulis bersama Om Jay.

Narasumber pertemuan kedelapan ini adalah Mbak Noralia Purwa Yunita, M.Pd. Sosok guru muda yang sarat dengan prestasi. Beberapa karya bukunya sudah terbit, salah satunya buku tentang Digital Mindset yang berkolaborasi dengan Prof. Eko Indrajit. Hebatnya lagi, buku tersebut diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor, yaitu Penerbit Andi. Anda bisa melihat profil dan karya tulisan beliau via  blog pribadinya yaitu Catatan Harian Penulis Pemula.

Sosok Noralia Purwa Yunita bukanlah sosok baru bagi saya. Beliau adalah adik kelas saya selama kuliah di Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Semarang. Orangnya memang super lincah, cerdas dan aktif. Jadi tidak mengherankan kalau banyak prestasi yang telah ditorekannya.

Malam ini beliau berkesempatan untuk berbagi pengalaman perjalanan kepenulisannya sampai saat ini. Dimulai dari ikut kelas pelatihan Om Jay gelombang 8, dengan membuat resume sebagai syarat mengikuti pelatihan ini. Sampai akhirnya mampu menerbitkan sendiri beberapa karya berupa buku. Bahkan sekarang masih proses menggarap beberapa buku lainnya untuk diterbitkan.

Mengapa Harus Memilih Fiksi atau Nonfiksi?

Menentukan jenis tulisan terlebih dahulu adalah sesuatu yang pasti harus dilakukan oleh seorang penulis. Apalagi kalau kita masih pemula. Jenis tulisan dianjurkan disesuaikan dengan minat dan kesukaan seseorang dalam menulis. Mengapa begitu? Agar langkah pertama dalam menulis dapat mudah. Karena diawali dari kesukaan dan minat penulis.

Jika menulis nonfiksi, tentu harus menyiapkan referensi yang memadai dan dapat dipertangungjawabkan. Karena nonfiksi lebih banyak mendeskripsikan data. Ataupun argumentasi tulisan yang ingin dituliskan, harus ada dasar yang melatarbelakanginya. 

Contoh sederhana, jika ingin menerbitkan buku ajar (nonfksi), maka langkah pertama pasti membutuhkan data kurikulum yang berlaku. Seperti apa ploting KI KD, tujuan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi yang berlaku pada kurikulum saat ini. Sehingga bisa dicarikan referensi yang memadai terkait bahasan di dalam buku bahan ajar yang akan dibuat.

Lain halnya jika ingin menulis nonfiksi, maka hal yang perlu disiapkan adalah daya imajinasi kreatif penulis. Sebuah cerita akan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembacanya, jika mampu memberikan daya imajinasi yang baik. Baik membuat alur cerita yang unik ataupun penguatan karakter yang dapat dirasakan benar-benar hidup di dalam alur cerita. Karya-karya besar mempunyai kekuatan penggambaran karakter yang kuat. Seolah-olah kita sedang bersama pemeran aslinya di dalam cerita itu.

Untuk awalan, sebagai penulis pemula memang harus menentukan dulu jenis naskah apa yang akan ditulis. Saran dari Mbak Noralia kurang lebih seperti itu. Saya mengambil kesimpulan tujuannya agar kita bisa fokus dengan apa yang akan kita hasilkan. Selebihnya, terkait persiapan, pematangan konsep/alur cerita bahkan eksekusinya akan mengikuti secara otomatis. Berjalan seperti seharusnya menulis fiksi atau nonfiksi.

Baca Juga:

Kendala yang Sering Dialami Penulis

Dalam kesempatan pertemuan kedelapan kemarin, sebagai penulis yang bisa dibilang produktif ternyata permasalahan tetap menggelayuti dalam proses penyelesaian bukunya. Ada beberapa kendala yang dialami penulis dalam merampungkan naskah yang sedang dikerjakan. Mbak Noralia membaginya di dalam empat hal berikut, berikut juga dengan solusinya.

1. Skala Prioritas

Sebagai ibu rumah tangga, tentu tidak mudah membagi kesibukan menulis dengan mengurus urusan rumah tangga. Apalagi ditambah dengan pekerjaan sebagai guru yang punya banyak kegiatan persiapan dalam mengajar. Pembelajaran daring lebih-lebih lagi, membutuhkan persiapan yang lebih banyak dibandingkan dengan tatap muka. Itulah sekelumit kisah tentang permasalahan yang berkaitan dengan latar belakang Mbak Noralia. Sebagai penulis, pendidik juga pastinya sebagai ibu rumah tangga.

Maka membuat skala prioritas menjadi pilihan yang tepat. Baginya keluarga tetap menjadi pilihan utama. Sedangkan yang lain akan menyesuaikan jadwalnya. Tetapi dengan kesungguhan pada akhirnya, skala prioritas memudahkan menyelesaikan semua pekerjaan. Walaupun harus merelakan menulis dengan badan terlalu letih setelah menidurkan anak dan begadang. Tapi itu bagian dari proses yang harus dijalani agar target tulisan dapat tercapai.

2. Malas dan Jenuh

Semua orang pasti mengalami dua hal ini, malas dan jenuh. Ini wajar dan sangat lumrah. Apalagi melakukan perkerjaan yang sama dan berulang-ulang. Tentu akan mudah bosan dan jenuh, efeknya menjadi malas karena mood menulis tak ada. Solusinya ya, refreshing. Melakukan pekerjaan untuk mengalihkan dan menghilangkan kejenuhan.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan, kalau Mba Noralia memlih untuk nonton film, baca novel online atau apapun yang membuat diri menjadi nyaman. Bisa juga untuk berkebun, atau mengunjungi tempat yang baru, kalau boleh saya menambahkan. Itu semua menjadi pelepas kejenuhan. Jangan berlama-lama, kasih batas waktu kalau bisa. Harapannya sesegera mungkin bisa kembali bersemangat merampungkan apa yang tertunda. Tancap gas, dan selesaikan.

3. Krisis Ide

Ide memang bisa berasal dari banyak hal. Dari hal yang sederhana di sekitar kita, sampai yang paling rumit bisa menjadi ide. Tinggal mengasah kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar kita. Bahkan ketika membaca, atau melihat film pun, jika kita melatih kepekaan bisa muncul ide. Jangan terpaku dengan asyiknya alur di dalam cerita, tapi bertanyalah di dalam hati, “kok bisa ya alurnya begitu? Seharusnya, pemeran utamanya begini, begitu dan lain-lain .” Pertanyaan-pertanyaan yang kita munculkan itu, bisa menjadi bahan ide untuk tulisan kita berikutnya.

Baca Juga:

4. Rendahnya Perbendaharaan Diksi

Tiada solusi yang paling tepat pada permasalahan kekurangan perbendaharaan diksi, kecuali kita menambah bacaan. Diksi yang kaya, diawali dan diiiringi dengan kebiasaan membaca. Saya kira tidak ada yang membantah solusi ini. Bacaan apapun itu bisa menjadi solusi memperkaya diksi kita. Kebiasaan membaca memudahkan kita dalam mengalirkan kata-kata tanpa harus berpikir dua tiga kali memilih kata pada saat tangan mengetik. Kalau pun nanti ada perubahan kata atau diksi pasti dibagian review tulisan. Saya membuktikan ini.

5. Takut Menulis karena Salah

Hal ini sudah kita bahas berkali-kali di dalam resume-resume sebekumnya. Setiap narasumber hampir memberikan pernyataan yang kurang lebih sama. Tuliskan dulu, ikut aturan belakangan. Jangan takut salah, tapi takutlah jika tidak pernah mau memulai. Selesaikan tulisan, baru kemudian dikoreksi sehingga dapat meminimalisir kesalahan.   

Kiat Menulis by Noralia Purwa Yunita

1. Niat

Semua hal pasti dan seharusnya diawali dengan niat. Mengapa saya harus menulis, apa yang akan saya tulis, untuk apa saya menulis dan mau jadi seperti apa tulisan-tulisan saya nantinya? Pertanyaan-pertanyaan itu membantu untuk menemukan motivasi dan niat Anda menulis. Harapannya, ketika melakukan aktivitas menulis, kita punya tujuan jelas apa yang akan dicapai. Melalui menulis dan jadi penulis, kita mempunyai bayangan masa depan yang seperti apa yang akan dikejar. Sehingga niat menulis, harus ditajamkan dahulu dari sekarang. Agar dapat menghunjam lebih dalam di dalam benak dan sanubari kita masing-masing.

2. Paksa

Niat saja tidak akan kuat, jika tidak disandingkan dengan tekad. Tekad mampu memaksa diri kita untuk bergerak maju. Dengan memaksa diri kita, maka sejatinya kita telah melangkahkan satu kaki lebih baik untuk kedepannya. Saya kira, jangan pernah ragu untuk memaksa diri dalam hal kebaikan, sepanjang masih bisa untuk dilakukan.

3. Mau

Setelah “pemaksaan” diri dilakukan, maka timbullah yang namanya mau. Kata mau seakan sudah menjadi kebiasaan, kalau sudah terbiasa dipaksa. Kata mau seolah menjadi pergerakan jiwa yang bergerak secara otomatis, jika mendengar suatu tantangan.

Outline Rohnya Tulisan

Ya. Rohnya tulisan terletak di outline. Saya kira, kata itu tidak berlebihan. Outline merupakan kerangka dasar tulisan kita. Mengalirkan suatu tema besar ke dalam sub-sub bagian yang saling terkait satu dengan lainnya. Outline memudahkan kita mencari data yang berurutan dan tidak melompat-lompat. Outline juga membantu tulisan lebih terarah dan terstruktur, bahkan bisa lebih teliti dan detil pembahasannya.

Sama halnya saya, selalu membuat outline dulu sebelum menulis. Termasuk tulisan ini. Saya merasa sangat terbantu dalam mencari referensi penguat tulisan saya. Bahkan sangat membantu saya dalam mengalirkan ide dan kata-kata dalam tulisan saya.

Namun, memang saya tidak mengetahui ada kaidah 5W+1H atau 2W+1H. Pokoknya alirkan saja outline menurut saya sendiri, tanpa terpaku dengan aturan yang ternyata ada untuk pembuatan outline. Untuk itu, kedepannya saya akan coba mendalami lagi konsep itu, agar tulisan menjadi lebih baik lagi dari segi kaidah penulisan yang benar.

Salam. Selamat Berkarya.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

6 Responses

  1. Momo DM says:

    Saya penginnya menjadi seorang penulis fiksi yang andal menulis nonfiksi, Pak

  2. Rizky Kurnia Rahman says:

    Beda memang kalau pakai WordPress dengan Blogspot. Terasa tulisannya lebih cetar membahana, apalagi blog yang satu ini.
    Paragraf-paragraf juga asyik, tidak terlalu banyak isi kalimatnya. Jadi, dibuka di HP tidak tampak padat sekali.
    Font tulisan juga pas, terlihat tegas, tetapi kesan akrabnya itu terasa.
    Sukses terus ya Pak. Tetap menulis berbagi manfaat.

    • yudhistira says:

      Sebenarnya kalau pakai blogspot yang thema free tapi bukan bawaan dari blogger untuk font lumayan bagus pak. Cuman kawan-kawan masih pakai thema bawaan blogger, jadi kelihatan simple.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *