Tips Tulisan Dimuat Koran dan Majalah

Bagaimana tips-tips menulis artikel agar dimuat di koran atau majalah? Pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar bagi kita sebagai penulis pemula. Kebanggaan tersendiri apabila tulisan dan nama kita dapat dimuat oleh koran atau majalah. Ya, hal ini pernah saya alami. Honorarium memang bukan hal utama saat itu, tapi membuat tulisan yang tidak terlalu panjang dengan honor mencapai dua ratus ribu adalah sesuatu. Bangga dan menyenangkan.

Mengetahui cara dan teknik agar tulisan diterima koran atau majalah menjadi pembahasan pertemuan kali ini. Narasumber utama adalah Bapak Encon Rahman, salah satu penulis di media massa paling produktif. Beliau memaparkan pengalaman menulis di media massa baik koran atau majalah sudah lebih dari 500 artikel yang diterima. Ini belum termasuk cerita bersambung, cerpen, sajak ataupun komik yang telah dimuat diberbagai koran atau majalah. Luar biasa!!!

Aktivitas menulis sudah dimulai sedari sekolah jenjang SMP dengan menulis di majalah dinding sekolah. Kemudian berlanjut hingga SPG dan memasuki jenjang kuliah dengan mengambil jurusan Bahasa Indonesia untuk lebih mempertajam lagi pengetahuan kebahasaan. Dan, yang perlu kita apresiasi adalah daya tahan dan konsistensi beliau yang masih tetap menulis sampai sekarang.

Menjadi seorang penulis, terutama di koran dan majalah masih menjadi salah satu alternatif mencari tambahan finansial yang cepat. Karena daya literasi dan menulis masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sehingga peluang untuk bersaing menjadi penulis di media koran atau majalah masih sangat terbuka. Tinggal mau atau tidak untuk mengembangkan ilmu kepenulisan yang tepat untuk media massa. Sehingga tulisan bisa lebih pas dengan karakter media yang akan dituju.

Baca Koran, Cara Mengenal Karakteristik Koran

Untuk mengenal karakteristik koran, disarankan untuk sering membaca koran. Terutama pada bagian yang ingin kita kirimkan naskah. Pahami dalam rentang waktu tertentu (beberapa edisi) agar lebih mengena dan detail. Rentang waktu itu pun bervariasi, bisa dengan membaca 2 minggu berturut-turut koran yang dituju. Atau bahkan lebih. Khusus untuk majalah, yang sifatnya terbit setiap bulan, minimal membaca dulu majalah itu paling tidak tiga edisi terbit. Tidak ada aturan baku seberapa banyak edisi yang kita baca dan pahami. Namun, semakin banyak tentu kita akan semakin paham detail dari karakteristik koran atau majalah tersebut.

Baca Juga:

Kliping Tulisan Orang Lain

Salah satu teknik untuk memudahkan kita menulis di koran, dengan cara membuat kliping tulisan orang lain. Kliping tulisan ini banyak sekali manfaatnya. Kita bisa mengenal gaya penulisan orang lain yang tentunya sesuai dengan standar koran tersebut. Sehingga memudahkan kita mengenal gaya dan karakteristik koran tersebut. Manfaat lainnya adalah kita bisa mendapatkan ide dan inspirasi menulis. Melalui tulisan orang lain, kita bisa menyusun suatu tulisan dengan tema kurang lebih sama dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.

Selain itu, kliping juga membantu kita ketika membuat tulisan pada momen tertentu. Ketika pada suatu momen peringatan tertentu, biasanya banyak penulis menulis tema yang kurang lebih sama. Momen peringatan seperti itu akan berulang tiap tahun. Hal ini membantu untuk memberikan ide menulis dengan tema yang sama tetapi dapat ditambahi data terbaru pada tahun saat penulisan. Sehingga ide bisa lama, tapi konsep tulisan bisa baru karena memakai data yang terbaru.

Semisal, tanggal 2 Mei yang biasa kita peringati Hari Pendidikan Nasional. Pada saat itu, sekitar tanggal 2 Mei pasti banyak beredar tulisan yang bertema pendidikan. Mengumpulkan tulisan dibuat kliping sangat membantu untuk menulis di tahun berikutnya. Ditulis dengan sudut pandang yang berbeda, dikemas dengan baik maka muncullah tulisan yang baru.

Buat Tulisan yang “Ringan”

Target pertama adalah tulisan dapat dimuat di media dulu. Ini menjadi motivasi yang luar biasa bagi seorang pemula. Maka teknik yang digunakan, menulis sebuah tulisan yang tergolong ringan dahulu. Namun, konsep tulisan ringan atau berat dikembalikan lagi kepada penulis. Bisa jadi bagi sebagian orang menulis cerpen adalah sesuatu yang mudah dan ringan. Namun, bagi sebagian orang menulis cerpen sangat susah. Jika itu termasuk mudah bagi Anda, maka tulislah cerpen, lalu kirimkan ke koran atau majalah. Bisa jadi menulis puisi mudah bagi sebagian orang, namun bisa jadi tidak bagi sebagian orang.

Jika menulis puisi termasuk mudah bagi Anda, maka menulislah, dan kirimkan puisi ke koran atau majalah. Bisa jadi menulis opini mudah bagi sebagian orang, namun bisa jadi susah bagi sebagian orang. Jika menulis opini lebih mudah bagi Anda, maka tulislah opini, kirimkan ke koran atau majalah. Tulislah mana yang dianggap paling mudah menurut Anda. Jangan ragu untuk mengirimkan ke koran atau majalah. Begitulah kiranya yang bisa diambil kesimpulan dari poin ini.

Pilih Media yang Persaingannya Longgar

Jika tidak berhasil dimuat ke koran nasional, kirimkan ke koran lokal. Jika masih tidak diterima lagi, kirimkan lagi tulisan ke majalah. Terkhusus kita yang berprofesi sebagai guru, akan lebih baik menulis opini yang berkait pendidikan. Maka kirimkan ke majalah pendidikan agar cepat dimuat. Karena koran atau majalah juga melihat latar belakang kita. Mengapa demikian? Karena artikel yang kita tulis akan lebih mendalam, jika dibahas oleh orang yang memang berkecimpung dibidangnya. Artinya, tulisan lebih valid dengan data dan pengetahuan yang dimilik oleh penulis. Yang memungkinkan tulisan menjadi lebih berbobot dan aktual.

Untuk mempermudah tembus dimuat koran atau majalah, kirimkan tulisan pada koran atau majalah yang sekiranya pesaingnya tidak terlalau besar. Ini membantu tulisan terbit, karena pesaingnya sedikit. Terlepas kualitas tulisan seperti apa, yang terpenting adalah dimuat terlebih dahulu. Jika memang dimuat maka bisa dipastikan bahwa tulisan sudah sesuai dengan standar koran atau majalah yang Anda tuju.

Berdasarkan pengalaman, tulisan yang dimuat di majalah tidak serta merta apa yang kita tulis dimuat semua. Pasti akan diedit oleh pihak koran atau majalah tersebut. Tujuannya agar tulisan lebih enak dibaca, dan disesuaikan gaya yang dimiliki oleh media tersebut. Tetapi tidak akan jauh melenceng dari ide atau tulisan awal yang kita kirim.

Bergaul dengan Komunitas Menulis

Berulang kali konsep ini digaungkan oleh para narasumber di pelatihan ini. Selain untuk menjaga motivasi menulis, bergabung ke komunitas menulis juga membantu menaikkan kualitas tulisan. Di dalam komunitas menulis tersebut, kita bisa bertukar pendapat, koreksi tulisan bahkan saling mengkritisi dan memberi saran terhadap tulisan kita. Sehingga menambah pengetahuan baru melalui sudut pandang orang lain. Hal ini memperkaya wawasan kita di dalam dunia kepenulisan. Dan, sangat berguna di dalam memperbaiki tulisan-tulisan kita ke depannya.

Foto oleh Ingo Joseph dari Pexels

Baca Juga:

Jika Ditolak, Kuatkan Hati, Koreksi Tulisan

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa menulis di koran atau majalah sangat susah untuk dimuat bagi seorang pemula. Selain kurang pengalaman, juga kurang dikenal oleh redaktur koran atau majalah. Namun, bukan berarti tulisan jelek. Jika kesan pertama tulisan yang dikirim tidak menarik bagi redaktur, bisa jadi naskah kita cuma dilihatnya tanpa dibaca. Maka benar kata Pak Enco Rahman, butuh teknik khusus membuat judul tulisan agar menarik pada pandangan pertama. Selain itu, intro dalam pembuatan artikel juga harus diperhatikan. Dua hal ini menjadi kesan pada pandangan pertama. Jika menarik, maka redaktur akan melanjutkan untuk melihat, membaca dan mencoba untuk menyeleksi di antara naskah-naskah yang layak untuk diterbitkan.

Setiap penulis pasti merasakan naskah ditolak, tanpa diterbitkan oleh koran atau majalah. Namun, jangan pernah putus asa untuk membuat tulisan lagi. Jangan pernah patah arang untuk mengirim lagi. Banyak cerita yang pasti sudah kita dengar, sehingga penolakan menjadi hal yang biasa. Tinggal bagaimana kita tetap memotivasi diri untuk tetap membuat tulisan dan mengirimkannya lagi.

Solusinya adalah perbaiki lagi tulisan kita. Barangkali analisa kita terhadap masalah masih kurang dalam. Ulasan yang dibuat tidak sesuai dengan karakter dan visi misi koran tersebut. Atau, bisa jadi tatanan bahasa menulis kita masih banyak yang salah. Dan, mungkin juga banyak alasan lainnya. Namun, tetap solusi pertama adalah memperbaiki tulisan dan  meningkatkan kualitas tulisan yang kita buat.

Penutup

Pada akhir pertemuan, Pak Encon Rahman menyampaikan bahwa menulis mempunyai beberapa dampak positif bagi kita. Pertama, dapat menjadi ladang amal bagi kita. Kita menebar kebermanfaatan dan gagasan melalui tulisan. Walaupun kita meninggal, nama kita tetap akan dikenang karena tulisan kita. Kedua, keistikamahan menulis dapat membuat kita menjadi lebih populer. Minimal dalam kalangan kawan-kawan seprofesi. Kita mempunyai nilai lebih dibandingkan yang lain. Ketiga, dampak finansial akan mengikuti dari hasil kerja keras dan istikamahnya kita dalam menulis. Kita mendapatkan honor dari menulis. Kita mendapatkan penghargaan berupa materi atas ide dan gagasan yang kita tuangkan di dalam tulisan kita.

yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

You may also like...

22 Responses

  1. Didi says:

    Baca tulisan keren dengan tampilan design yang mantap seperti ini jadi minder. Salut pak…

  2. Keren banget resumenya, ala profesional tampilan blognya juga… mantaaap pak yudistira..

  3. Rizky Kurnia Rahman says:

    Wah, mantap, banyak tambahan tulisan dari resume asli! Menambah wawasan dan pengetahuan.

  4. Adam says:

    Good job pak, tampilan blog bagus

  5. benar-benar keren resumenya bapak ini….

  6. Min Hermina says:

    Pak Tama rumahnya bagus dan isinya juga kerennn, menambah betah tamu yang datang untuk membaca.

  7. Budiyanti says:

    Blogger bagus ini. Tulisan juga bagus. Pokoknya keren.

  8. Super keren resumenya pak, design blog sangat bagus, mantab pak Tama Ydhistira ….

  9. Yuliyati says:

    Congratulation…in my opinion, you are the best. Your resume is always amazing

  10. Momo DM says:

    Mantap banget, Pak. Sedikit masukan untuk penulisan dibidangnya. Seharusnya di bidangnya. Kenapa? Karena tidak ada kata membidangnya. Sama penulisan mama narasumber. Kalau tidak salah Encon, bukan Enco. Tabik.

  11. Asyik.. saya suka cara penyajian dan urutan materi nya bantu saran juga ya di blog saya karena msi pemula murni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *