menulis di wordpress atau blogspot

Efek pandemi terasa di berbagai lini kehidupan. Salah satu yang paling terasa adalah dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Mengapa begitu? Pandemi Corona memaksa semua guru berpikir kreatif untuk menyampaikan materi dan memberikan penilaian melalui dunia maya (daring). Daring di Indonesia belum tentu bisa dilakukan seluruh Indonesia. Mengingat tidak semua daerah di Indonesia sudah tersedia akses internet yang merata. Belum lagi, banyak orang tua siswa yang belum tentu punya gawai untuk daring.

Oleh karena itu, sebagai guru tidak hanya kreatif tetapi juga bijaksana dalam memberikan materi dan penugasan kepada siswa. Jangan sampai siswa merasa jenuh serta menjadi beban selama pembelajaran. Hal ini sudah terbukti, banyak orang tua yang kemudian mengeluh karena kelelahan dan kewalahan dalam mendampingi anaknya selama pembelajaran jarak jauh.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya apa yang kita lakukan selama PJJ tidak salah jalur.

kesa;ahan guru dalam memberikan tugas selama daring
Pembelajaran daring. Foto: pexels.com

Hati-hati Terjebak dengan Kelas Online Tatap Muka

Adakalanya karakteristik materi tidak bisa disampaikan dengan pemberian tugas mandiri. Perlu disampaikan secara langsung. Namun, jangan pula terjebak harus melakukan tatap muka ketika PJJ. Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan. Penggunaan Zoom Meeting dan aplikasi tatap muka secara daring memang bagus. Tapi tidak bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama dan kontinyu. Kuota internet menjadi beban tersendiri bagi orang tua. Belum lagi ada siswa yang tidak mempunyai gawai. Kalau di kota mungkin masih bisa, kalau dikembalikan ke daerah ini menjadi permasalahan. Sehingga solusi terbaik pilihlah materi yang benar-benar memerlukan pendampingan dan penjelasan yang mengharuskan tatap muka online. Selebihnya diberikan tugas terstruktur dengan deadline yang terukur.

Jangan hanya Sibuk Memberikan Tugas

Kemudahan dapat dirasakan jika kita memahami penggunaan teknologi. Tentu ini berdampak pula di dunia pendidikan. Pandemi memaksa semua orang untuk membuka jendela yang baru yaitu penggunaan teknologi secara masif untuk pembelajaran. Yang kemudian dikenal dengan Pembelajaran Daring atau Pembelajaran Jarak Jauh. Namun, karena mudahnya penggunaan teknologi untuk pembelajaran tidak bisa juga kita memberikan pembelajaran ala kadarnya. Asal kirim tugas selesai urusan dan kewajiban. Anggapan ini akan menjadi beban bagi siswa. Karena siswa diberikan beban berlebih dalam hal pengerjaan tugas tanpa ada variasi pembelajaran daring.

Pembelajaran daring akan sangat bermakna jika tugas yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana adalah materi perubahan fisika dan kimia. Mintalah siswa untuk melarutkan garam kemudian dipanaskan dan dilakukan di rumah. Apa hasilnya? Suruh siswa mencatat urutan kejadian peristiwa yang dilakukan dalam bentuk laporan sederhana. Buat kesimpulan. Saya yakin siswa lebih berkesan dengan cara ini. Daripada kita menyuruh siswa membaca maupun mengerjakan soal latihan yang isinya : Termasuk perubahan apakah garam yang dilarutkan di dalam air?

Hindari Penggunaan soal HOTS

Saya sadar soal bertipe HOTS saat ini tengah booming. Bahkan menjadi primadona seakan memberikan soal HOTS suatu kewajiban sebagai bentuk ukuran kemampuan siswa. Perlu diingat, saat ini kita belajar pada kondisi yang tidak ideal. Pembelajaran sistem HOTS memerlukan cara dan sistem khusus. Bisa jadi memerlukan penjelasan yang detail sehingga tatap muka jauh lebih enak digunakan daripada daring. Bagi intake siswa yang sudah mapan dan bagus bisa jadi penggunaan daring tak akan bermasalah jika diberikan soal HOTS. Karena bisa jadi itu tuntutan untuk pendidikan ke jenjang selanjutnya. Namun jika kemampuan siswa biasa saja, maka pemberian tugas yang lebih bijak tentu lebih baik.

Dituntut Menuntaskan Capaian Kurikulum

Jangan salah. Ketidakharusan menuntaskan kurikulum sebagaimana anjuran menteri belum sepenuhnya dipahami oleh guru bahkan sekolah itu sendiri. Saya masih yakin banyak yang terjebak dengan keharusan menuntaskan kurikulum. Dengan dalih supaya ketika siswa naik kelas ke tingkat atasnya guru tidak menjelaskan ulang. Atau siswa mempunyai bekal cukup untuk tingkat dan jenjang di atasnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Memang benar, keadaan pandemi ini tidak cukup ideal untuk memberikan pengetahuan dasar untuk lanjut ke tingkat atasnya. Tapi sebagai guru juga harus menyadari bahwa hal ini tidak bisa dipaksakan.

Anda juga bisa membaca : Pengertian Kurikulum dan Fungsinya

Jika masih terjebak dengan pola pikir tersebut, guru menjadi tidak fleksibel dalam penerapan pembelajaran. Efeknya penumpukan tugas yang banyak pada siswa. Siswa menjadi lebih bosan. Dihadapkan dengan tumpukan tugas tanpa ada pengarahan secara langsung seakan-akan pembelajaran terasa hampa. Pengarahan tugas dilakukan secara daring tentu beda “rasa” jika disampaikan secara langsung. Bayangkan jika hal ini berlangsung terus-menerus. Pasti bosan. Solusinya adalah pilihlah materi yang benar-benar penting bagi dasar keilmuan untuk tingkat dan jenjang di atasnya nanti. Saya yakin para guru lebih tahu mana materi yang benar-benar perlu disampaikan, dan mana materi yang perlu di skip karena keadaan yang tidak ideal.

Sumber inspirasi:

Rahasia Menghindari Kesalahan dalam Pemberian Tugas selama PJJ

By yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *