Tak sekedar masalah teknis ketiadaan gawai, paket kuota ataupun sinyal yang hilang datang di daerah tertentu. Namun, pembelajaran daring membuat guru harus berpikir ekstra bagaimana menyuguhkan pembelajaran yang efektif tapi tetap menyenangkan.

Memang tidak mudah mewujudkannya apalagi kendala pembelajaran jarak jauh seolah tidak ada ujung kepastian sampai kapan akan berakhir. Oleh karena itulah, pelaksanaan pembelajaran memang harus benar-benar dirancang agar tidak membosankan

Pembelajaran Daring yang Memudahkan

Tidak sekedar itu, pembelajaran juga harus dapat diikuti oleh sebagian besar peserta didik. Jangan sampai pembelajaran dirancang malah menyusahkan. Oleh karenanya, muncul sebuah pernyataan “Pembelajaran daring yang baik, bukan sekedar penggunaan media yang menarik, namun pembelajaran yang dapat memudahkan semua peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran daring secara optimal.”

Kalau menilik pernyataan itu, memang benar adanya. Konsep itu lebih menekankan partisipasi peserta didik, dibandingkan menyuguhkan pembelajaran menarik, tapi menyusahkan peserta didik.

Contoh kecil saja, penggunaan Zoom Meeting. Bagus, dan sangat bagus untuk mereplika pembelajaran tatap muka secara daring. Kita bisa melihat dengan jelas siapa-siapa yang hadir ikut dalam kegiatan pembelajaran.

Kita sebagai guru juga bisa leluasa menyampaikan materi. Lebih memudahkan interaksi dengan peserta didik. Namun, itu menyisakan tanda tanya besar. Bagaimana kuota internet anak bisa cukup untuk pembelajaran semua mata pelajaran? Jika sepuluh guru memakai konsep tatap muka secara online, maka bisa dipastikan kuota internet anak akan jebol.

Dengan hal itu, maka pembelajaran daring menjadi menyusahkan orang tua. Tentu tidak bijak. Oleh karenanya membutuhkan kreativitas guru dalam merancang pembelajaran. Mencari pola pembelajaran yang menarik tetapi juga memudahkan peserta didik dalam belajar.

Merubah Paradigma Penilaian Pembelajaran Daring

Selain merancang pembelajaran yang menarik dan memudahkan, guru juga harus memberikan penilaian. Penilaian pembelajaran digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana pemahaman peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.

Namun dalam kondisi yang tidak normal seperti ini, tentu kita harus merubah paradigma itu. Asesmen tidak melulu mengukur kepahaman peserta diidk, namun untuk memperbaiki konsep belajar daring yang efektif sepeti apa.

Belajar yang efektif selama pandemi hanya bisa dievaluasi, dirancang dan dibuat skema oleh guru itu sendiri. Karena setiap guru lebih mengetahui keadaan lingkungan tempat belajar, karakteristik peserta didik, serta daya dukung dalam pembelajaran daring.

Oleh karenanya, penilaian pembelajaran serta konsep pembelajaran daring tidak bisa disamakan antar peserta didik di seluruh Indonesia. Mengingat banyak hal yang tidak bisa disamakan situasi dan kondisinya. Mereplikasi dan memodifikasi tentu bisa saja. Namun, tetap berpegang pada pengetahuan guru terkait lingkungan belajanya.

Baca Juga:

Pengertian Kurikulum

Instrumen Penilaian Pembelajaran Daring

Tugas

Dalam kondisi pembelajaran jarak jauh, tugas sudah pasti menjadi instrumen paling penting. Bahkan instrumen utama dibandingkan dengan ujian atau ulangan harian. Melalui tugas, kita bisa melihat kosistensi siswa dalam mengerjakannya.

Karena biasanya, jika pembelajaran daring yang dilakukan dengan periode sepanjang ini, cukup melelahkan dan membosankan bagi peserta didik. Bisa jadi kita sudah memberikan pembelajaran kreatif dan menarik, namun akumulasi pembelajaran dari beban mata pelajaran yang cukup banyak tetap saja membuat anak bosan.

Apalagi tidak semua guru menerapkan pembelajaran aktif dan menarik. Ada yang biasa-biasa saja. Jadi, konklusi saya cukup mewakili suara hati peserta didik. Oleh karena itu, konsistensi siswa dalam mengerjakan tugas menjadi penilaian terpenting dalam proses PJJ ini. Jika peserta didik, aktif menyelesaikan tugas, maka secara umum bisa dianggap anak aktif dalam pembelajaran daring. Karena di luar sana, banyak yang tidak mengerjakan tugas, hanya absen kemudian tugas atau materi ditinggalkan.

Ujian atau Ulangan Harian

Ujian atau ulangan harian yang diberikan guru kepada peserta didik bisa menjadi acuan dalam penilaian pembelajaran daring. Karena biasanya bobotnya lebih besar dibandingkan tugas. Namun, dalam kondisi daring keadaan ini menjadi masalah. Aspek kejujuran siswa dalam mengerjakan ulangan harian menjadi permasalahannya.

Ya, siswa tidak bisa kita awasi dengan saksama saat mengerjakan. Bahkan ada pula sebagian dari mereka berkumpul untuk mengerjakan ulangan harian bersama-sama. Sehingga bisa saling menyontek. Ditambah lagi, mereka juga mudah mengakses Google untuk searching materi pendukung atau bahkan jawaban.

Hal ini menjadi permasalahan tersendiri. Saya pernah mengalami hal ini. Anak yang di kelas biasanya paling aktif, bahkan terkenal paling pintar ketika melakukan ujian daring nilai hanya pas KKM. Sedangkan anak yang jarang masuk, penyerapan materi sangat kurang malah mendapatkan nilai sangat di atas rata-rata. Membingungkan saya pastinya.

Oleh karena itulah, bagi saya nilai tugas menjadi lebih penting. Karena saya menilai dari konsistensi mereka untuk tetap aktif mengerjakan tugas dari guru. Hal ini lebih bermakna bagi saya dan pendidikan karakter mereka.

Mereka sangat menghargai posisi kita sebagai guru dalam menjalankan amanahnya menjalankan pembelajaran. Tapi itu bukan berarti penilaian subjektif kepada mereka. Tetap berpegang pada objektifitas penilaian. Dengan pengumpulan tugas sesuai kuantitas, maka penilaian juga memudahkan kita. Berbeda jika ada yang kurang, otomatis mengurangi penilaian yang kita lakukan.

Keaktifan

Dari aspek afektif, penilaian pembelajaran daring dapat dilakukan pada keaktifan mereka dalam berdiskusi, bertanya serta saling memberi komentar dalam grup. Ini menandakan peserta didik tersebut benar-benar ada untuk mengikuti pembelajaran.

Ruang kelas berubah menjadi grup kelas dalam ruang maya. Sehingga penilaian tetap bisa bisa dilakukan meski pandemi belum berakhir. Tentu saja, diperlukan aturan yang ketat di dalam penggunaan grup sebagai pembelajaran. Diperlukan juga fleksibilitas penilaian di dalam grup kelas

Saya sendiri memberlakukan, jika memberikan komentar tidak terkait dengan pembelajaran akan selalu saya ingatkan. Selain itu, grup kelas akan saya kunci jika waktu belajar sudah selesai. Hal ini untuk menghindari percakapan yang tidak menjurus pada pembelajaran. Kemudian bisa dibuka lagi sesaat akan memulai pembelajaran atau ada pengumuman penting terkait pembelajaran secara umum.

Pada akhirnya memberikan penilaian terhadap pembelajaran memang sesuatu yang wajib. Karena ditujukan untuk mengonfirmasi sampai sejauh mana pencapaian pembelajaran yang berlangsung. Hanya saja dalam kondisi yang tidak menentu karena pandemi, guru harus lebih fleksibel dalam memberikan penilaian.

Oleh karenanya, pemerintah melalui Mas Nadiem, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan anjuran tidak perlu memaksakan penuntasan kurikulum. Namun, lakukan penyederhanaan kurikulum dan memberikan pembelajaran yang mempunyai makna bagi peserta didik.

Barangkali, ini sudah menjadi pandangan jauh ke depan oleh beliau. Karena efek yang ditimbulkan pandemi dalam bidang pendidikan akan membuat peserta didik kesusahan. Salah satunya, mudahnya timbul perasaan bosan yang akan mempengaruhi kualitas pembelajaran. Maka anjuran beliau ini boleh dikatakan sangat bijak dan situasional.

Semoga saja pandemi bisa segera berakhir dan kembali normal seperti dulu lagi. Sehingga semua berjalan normal dalam kebiasaan yang new normal.


yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *