Kali ini, melanjutkan postingan terkait model pembelajaran yang dipakai dalam kurikulum K13. Atau lebih dikenal dengan pembelajaran saintifik. Setelah sebelumnya kita membahas tentang model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), kali in kita akan membahas Discovery Learning.

Sama halnya dengan PjBL, Discovery Learning juga menekankan keaktifan siswa dalam belajar. Terutama dalam mencari permasalahan kemudian mencari solusi dengan berbagai langkah yang diolah sendiri oleh peserta didik. Itu artinya, peserta didik akan melakukan sendiri pencarian informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Tentu saja, peran guru tetap ada di pembelajaran. Yaitu sebagai fasilitator yang memberikan pengarahan. Agar jalannya pencarian materi pembelajaran berdasarkan permasalahan dapat berjalan sesuai rancangan pembelajarna guru.

Pengertian Discovery Learning

Model Pembelajaran Discovery Learning merupakan pembelajaran yang menekankan proses mental dan intelektual peserta didik untuk memproses suatu permasalahan dengan berbagai macam informasi guna menyelesaikan secara mandiri sehingga tercipta kesimpulan tentang pemahaman, prinsip dan konsep materi pembelajaran yang sedand dipelajari.

Dalam laman pgdikdas.kemdikbud.go.id, discovery learning dapat dilakukan dengan kaidah proses kognitif yang meliputi observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferensi. Proses koginitif ini merupakan langkah dalam berpikir secara runtut. Yang digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan cara ilmiah.

Jenis dan Bentuk Discovery Learning

Dalam praktinyna, Discovery Learning dibagi menjadi dua bentuk yaitu

  1. Guided Discovery Learning, pembelajaran discovery yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator selama proses pembelajaran.
  2. Free Discovery Learning, pembelajaran discovery yang tidak lagi membutuhkan fasilitator (guru) dalam proses pembelajarannya. (Suprihatiningsih (2014), dalam kajian pustaka.com)

Ciri dan Karakteristik Discovery Learning

Ciri model pembelajaran Discovery Learning dapat dijabarkan menjadi tiga hal yaitu 1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan; 2) berpusat pada siswa; 3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Ketiga poin ciri-ciri Discovery Learning di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa melalui pengalaman mencari secara mandiri, peserta didik dituntut untuk aktif mengembang pengetahuan yang dimiliki. Berangkat dari pengetahuan awal, kemudian mengolaborasikan pengetahuan yang baru. Sehingga tercipta pengetahuan yang selama ini belum pernah diketahui atau dipahami.

Karakteristik pembelajaran Discovery Learning adalah membuat siswa lebih aktif untuk melakukan “penelitian” secara mandiri untuk membentuk suatu konsep baru yang belum pernah diketahuiinya. Sedangkan guru dapat berfungsi sebagai fasilitator dalam memberikan pengarahan terkait jalannya penelitian yang dilakukan oleh peserta didik.

Baca Juga:

Langkah atau Sintaks Discovery Learning

Langkah model pembelajaran Discovery Learning tentu secara konsep akan sama dengan pembelajaran saintifik. Di mana terdapat proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan.

Hanya saja konsep pembelajaran sainstifik tersebut dileburkan dalam sintaks Discovery Learning sebagai berikut.

1. Stimulation (Pemberian Rangsangan)

Pada tahap ini, peserta didik dipancing melalui tayangan atau pertanyaan yang diajukan oleh guru. Rangsangan ini dikonsep sedemikian rupa agar siswa dapat memunculkan permasalahan sendiri. Berangat dari ini, kemudian nanti siswa akan mencari masalah yang akan dipecahkan pada tahap-tahap berikutnya.

Sehingga pengamatan siswa terhadap rangsangan dari guru, baik dari tayangan maupun pernyataan harus benar-benar dicermati. Karena dasar dari langkah selanjutnya adalah tahap rangsangan ini.

2. Problem Statement (Identifikasi Masalah)

Setelah melalui tahap stimulasi, peserta didik diajak untuk menemukan masalah-masalah yang terdapat dalam tahap stimulasi. Tahap inilah yang kemudian dinamakan identifikasi masalah. Identifikasi masalah memilih dan memilah permasalahan yang muncul dengan memberikan jawaban sementara dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara).

Hipotesis tersebut ini yang akan menjadi fokus pencarian solusi dari permasalahan yang. ada. Dari sinilah kemudian peserta didik akan merancang bagaimana menemukan referensi dan mengolah referensi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang tadi dimunculkan.

3. Data Collection (Pengumpulan Data)

Dalam tahap ini, peserta didik harus mencari referensi yang mendukung untuk menyelesaikan permasalahan yang dimunculkan di awal. Peserta didik secara mandiri harus menemukan jawaban dari pengumpulan data yang mendukung.

Peserta didik akan secara aktif menghubungkan pengetahuan yang ada dalam pikirannya, kemudian diintegrasikan dengan pengetahuan baru sesuai dengan masalah yang ada. Jika proses itu berjalan baik, maka peserta didik sudah belajar bagaimana berperan aktif untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian yang didasarkan oleh data-data yang valid. Sehingga penyelesaian permasalahan yang timbul nanti juga akan valid hasilnya.

4. Data Processing (Pengolahan Data)

Data-data yang telah dikumpulkan yang relevan dengan masalah akan ditampung, dipilih dan dipilah untuk menyelesaikan masalah. Tahap ini membantu siswa dalam membentuk pemahaman dan pengetahuan baru. Karena melalui tahap ini, siswa dapat mencari solusi yang tepat pada permasalahan yang muncul

Baiknya lagi, proses kognitif berjalan sangat baik di sini. Peserta didik akan merancang pengetahuan baru sebaik mungkin yang akan disampaikan pada tahap pembuktian dan penarikan kesimpulan. Tidak hanya berpikir bagaimana menyelesaikan masalah dan membuktikan hipotesis permasalahan, siswa juga akan berlatih merancang sistematika hasil pengolahan data. Supaya nanti lebih mudah untuk diterima teman-temannya.

5. Verification (Pembuktian)

Tahap ini melakukan pembuktian secara cermat hipotesis yang telah dibuat dengan hasil pengolahan data yang telah dilakukan. Guru dapat memberikan kesempatan untuk membuat konsep maupun prinsip dari proses pengolahan data. Kemudian dikomparasikan dengan jawaban sementara (hipotesis) yang telah dibuat. Apakah sama, atau berbeda dari hipotesis yang telah dibuat.

6. Generalization (Menarik Kesimpulan)

Tahap generalisasi merupakan tahap penarikan kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan. Khususnya menarik kesimpulan yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang telah dilakukan dengan berbagai tahap yang dilakukan di atas.

Penarikan kesimpulan bersifat umum untuk semua kejadian. Itu artinya, hasil verifikasi yang telah dilakukan akan ditarik kesimpulan prinsip umum dari sebuah kejadian (masalah) yang sama.

Demikian ulasan mengenai model pembelajaran Discovery Learning. Semoga dapat bermanfaat.

Sumber

https://www.kajianpustaka.com/2017/09/metode-pembelajaran-penemuan-discovery-learning.html

fdhttp://pgdikdas.kemdikbud.go.id/.


yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *