Dalam sintaks model Problem Based Learning seseorang akan memahami dengan baik model pembelajaran saintifik yang dipakai dalam pembelajaran kurikulum 13. Bahkan mungkin pembelajaran ini sangat sering digunakan oleh para pendidik dalam penyampaian materi di dalam kelas. Karena bisa dikatakan model ini bisa lebih mengena di dalam nalar peserta didik. Hal ini berdasarkan pembuatan rancangan pembelajaran berdasarkan permasalahan yang muncul di keseharian peserta didik.

Oleh karenanya, model pembelajaran Problem Based Learning bisa dikatakan model pembelajaran yang dapat menyelaraskan antara permasalahan real dalam sehari-hari dengan muatan kurikulum pendidikan. Pendidik harus mampu menggali sumber belajar dari permasalahan sehari-hari untuk dipecahkan sesuai dengan kebutuhan kurikulum oleh siswa.

Melalui hal itulah, ada tiga kunci utama dalam model pembelajaran Problem Based Learning yaitu masalah yang berasal dari kehidupan nyata, Problem Based Learning merupakan sebuah aktivitas pembelajaran, kemudian keduanya disatukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dimunculkan di dalam pembelajaran tersebut.

Ciri-ciri Problem Based Learning

  1. Kegiatan belajar dimulai dengan adanya sebuah masalah yang harus diselesaikan.
  2. Masalah yang disuguhkan berkaitan dengan kehidupan nyata peserta didik.
  3. Mengorganisasikan pembahasan seputar masalah yang telah diberikan.
  4. Peserta didik diberi tanggung jawab untuk menjalankan proses belajar secara langsung.
  5. Pendidik dapat membagi kelas menjadi kelompok kecil, agar terjadi kolaborasi. dan kerja sama aktif.
  6. Peserta didik mendemonstrasikan hasil kerja yang sudah dipelajari.

Sintaks Problem Based Learning

Sintaks Problem Based Learning merupakan langkah-langkah penerapan model ini di dalam kelas. Melalui sintaks Problem Based Learning, seorang guru dapat melakukan pembelajaran secara sistematis dan runtut. Sehingga bisa menjadi acuan berapa waktu yang dibutuhkan pada setiap tahapannya. Sehingga secara keseluruhan pembelajaran dapat terkonsep dengan baik dengan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.

1. Orientasi siswa pada masalah

Tahap pertama pembelajaran, selalu sampaikan pada peserta didik tentang tujuan pembelajaran yang ingin Anda capai. Kemudian, lemparkan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan peserta didik. Masalah harus berkaitan dengan kehidupan nyata peserta didik. Hal ini agar lebih mengena pada pola pikir peserta didik.

Selain itu, masalah digunakan untuk meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan analisis, juga inisiatif. Guru harus bisa memastikan bahwa setiap anggota dalam kelompok memahami istilah serta konsep yang ada dalam masalah.

2. Mengorganisasi siswa

Dalam tahap kedua ini, setiap anggota dalam kelompok diupayakan untuk menyampaikan informasi yang sudah dimiliki perihal masalah yang ada. Kemudian, diskusi terjadi dengan membahas informasi faktual, dan juga informasi yang dimiliki setiap peserta didik. Diskusi dalam pengorganisasian siswa ini diharapkan dapat terjadi tukar pendapat untuk memperluas pembahasan dan penemuan solusi yang lebih baik dari masalah yang telah dimunculkan.

Peran guru dapat membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang relevan dengan masalah yang disajikan. Guru memastikan setiap anggota dapat berkontribusi aktif dalam diskusi kelompok. Jangan lupa jua memberikan motivasi dengan cara berkeliling melihat perkembangan diskusi. Sehingga bisa mengarahkan diskusi kelompok pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

3. Membimbing penyelidikan

Guru dapat mendorong peserta didik dalam pengumpulan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, hingga mendapat insight untuk pemecahan masalah. Semuanya dilakukan setelah bahasan masalah sudah terorganisasi dengan baik pada tahap sebelumnya.

Penyelidikan yang dikakukan bertujuan untuk mencari solusi dari masalah yang dilemparkan sejak awal. Dengan berbekal diskusi sebelumnya, sudut pandang kelompok dapat terbentuk saat diskusi tersebut. Sehingga penyelidikan dan solusi yang akan ditemukan akan berdasar dari sudut pandang yang telah disatukan sebelumnya.

4. Mengembangkan hasil karya

Pada tahap ini, solusi dari suatu masalah sudah ditemukan. Guru dapat membantu siswa ketika proses perencanaan dan penyajian karya. Beberapa di antaranya video, model, laporan, dan membagi tugas di antara anggota dalam kelompok. Penyajian karya untuk ditampilkan dibuat semudah mungkin agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh kelompok lain. Ini penting, karena berkaitan dengan pemahaman dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai ada pertemuan tersebut.

5. Analisis dan evaluasi

Guru dapat mengarahkan siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam setiap proses yang dijalankan dalam penyelidikan. Peserta didik dapat mengelompokkan bagian yang sudah dianalisis keterkaitannya satu dengan lain untuk mendapatkan konsep keilmuan yang dipelajari. Dari sinilah peserta didik dapat menyimpulkan tujuan pembelajaran yang sesungguhnya.

Baca Juga

Model Pembelajaran Inquiry

Kelebihan dan Kelemahan Problem Based Learning

Kelebihan PBL

Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa kelebihan model Problem Based Learning diantaranya:

  1. Peserta dididik didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.
  2. Peserta didik memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar.
  3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi.
  4. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
  5. Peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara, dan observasi.
  6. Peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka.
  7. Kesulitan belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.

Kelemahan PBL

Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa selain memiliki kelebihan, model Problem Based Learning juga memilki kelemahan, diantaranya sebagai berikut:

  1. PBM tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi. PBM lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
  2. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah pelaksanaan PBL membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup lama. Selain itu, guru harus pandai dalam memilih materi yang tepat dalam pelakasanaan PBL. Hal ini berkaitan dengan minat dan ketertarikan peserta didik terhadap materi serta tingkat kepercayaan dirinya. Yaitu ketika seorang peserta didik harus mampu mengutarakan pendapat dan kemampuan analisis terhadap masalah dan solusinya.

Sumber bacaan:

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

ruangguru.com


yudhistira

I am a father, teacher at some school in West Borneo and want to be a good learner for my life.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *